.










Selasa, 06 Mei 2014

Another Pra-Novel.

Ketika mengingatmu, aku jadi seringkali menyesal. Menyesal karena aku yang terlalu tidak sabar untuk menunggu, terlalu buru-buru untuk pergi. Atau hanya sekedar menyesal, tidak mengucapkan selamat tinggal lebih awal.
Yang pada akhirnya membuat aku semakin terjerumus jauh terlampau dalam. Kedalam pusaran "kita" yang tak kunjung berhenti menyedot ingatan sampai suara rongga udara terdengar ketika semuanya sudah habis terserap.


Kamu memang tidak pernah tau sedih dan perihnya semua ini seperti apa, yang kamu hanya tahu, kamu salah, aku luka dan sudah.


Aku terus memutar ulang sesuatu yang sebenarnya tak perlu aku bongkar lagi. Seperti kucing dalam karung yang meraung ingin terlepas keluar harapkan meraup oksigen yang melimpah ruah. 
Semua yang kurasa sudah, cukup, berakhir, dan ku buang jauh ke dasar, seketika meluap bagai lahar panas gunung merapi. Membludak begitu saja, mendadak menguap mencari perhatian, tak mau terlupakan, panas menyecar kedalam hati dan membuatnya jadi naik tergenang di mata.
Sulit terungkapkan bagaimana semua itu terus-terusan ingin diperhatikan, ingin dikuak kembali, ingin diingat lagi dan lagi.

Aku tidak tahu harus menuliskan apa, yang mana, bagian apalagi? Kurasa cukup mudah untukmu menebak apa yang aku pikirkan.

Sebenarnya lelah otakku bekerja mengakali semua kejadian yang tak mau aku anggap benar adanya ini. Terlalu malas untuk kembali didorong masa lalu dan terus tak jelas meloncat-loncat diatas trampolin. Selalu kembali kamu yang memulai, dan sepertinya setelah itu kamu kemudian menyesal karena seharusnya tidak melakukannya. Tapi terlanjur. Dan kamu berusaha untuk menyudahi dengan cara... Melupakan dan minta dilupakan.

Yakin bisa?



Kamu dan otakmu yang kontra. Kamu dan hatimu yang pro. Yang selalu mengelak ketika sebenarnya jawabanmu adalah setuju. Kamu yang selalu mendasari semua dengan otak. Otak. Otak. Berpikir keras bagaimana supaya bisa menang mutlak atas apa yang ingin hati lakukan, tapi sering kali kamu hanya terjun ke pusaran kegagalan. Lagi-lagi kelepasan. Batinmu.

Aku kesal, kadang marah pada diriku sendiri. Jujur, aku selalu terlihat bodoh dalam masalah ini. Selalu bisa luluh dengan semua kejujuranmu yang polos. Entah benar atau tidaknya, akupun ragu. Ragu karena sebenarnya mau, tapi takut. Takut karena aku tahu kamu. Bagaimana kamu.. Seperti apa kamu..
Perasaanmu yang mengalahkan ringannya kapas terombang-ambing di udara bersama tujuan yang entah kemana, membuatku merasa harus benar-benar waspada atas apa yang kamu lontarkan. Tentang perasaanmu yang katanya begitu melulu. Terhadap aku.

Aku tidak mau mati menyesal hanya karena terlambat mengucapkan apa yang ingin aku ucapkan, mengetahui apa yang aku tidak ketahui, menyadari apa yang seharusnya aku sadari. Aku sama sekali tidak peduli dengan sikap menghindarmu atau ketuk palu penolakanmu, tidak peduli. Meskipun sebenarnya ada rasa takut kalau pada akhirnya aku lagi aku lagi yang kembali harus menelan fakta pahit.

Apakah kita yang serumit drama? Atau drama yang menyamai rumitnya kita? Kembalinya kamu yang selalu membuka obrolan tentang “dulu” yang ada kita didalamnya sudah cukup membuatku mual untuk mengingat semua rasa yang pernah dikecap. Ulasan tentang satu kata yang bisa menyedot kembali aku kedalam lubang waktu yang berlari mundur mengikuti alur.

Aku ingat semua, jangan khawatir. Aku hanya berusaha tidak ingat. Bukan tidak mau ingat, tapi terus-terusan mengingatnya akan membuat otakku diketuk-ketuk sampai pecah oleh semua pertanyaan “kenapa” yang tajam.

Mengingatnya membuat semuanya terasa berat. Lelah. Padahal aku bukan kura-kura, tapi seakan menggendong cangkang kosong yang isinya berusaha aku tarik keluar, tapi tetap kosong.
Secangkang penuh angan dan mimpi, rasa sakit bercampur kenyataan yang pahit, egoisme berkolaborasi dengan kebebasan, akulturasi antara cinta dan dunia, reaksi dari segala suasana hati dan pikiran, juga ingatan yang selalu kamu ulang-ulang inti ceritanya, menggulung-gulung di ruang cangkang tanpa udara. Tanpa mau dilupakan. Tanpa setitikpun bentuk padanya, tapi padat maknanya. Membuat semuanya terasa lamban dirasa, padahal sudah sekuat tenaga berlari secara paksa.

Kalau kamu memang mau ditulisi semua keluh kesahku atau segala sesuatu yang berkaitan dengan “dulu” milik kita, jangan cemas. Aku akan menulis itu semua. Percaya atau tidak semua yang aku ucapkan menjadi kenyataan.

Kamu selalu bisa membuka pintu dengan mudah, padahal sudah dikunci rapat-rapat. Memberi efek reaksi yang sama, padahal sudah kadaluarsa. Mencairkan dengan sinar hangat yang sama, padahal sudah lama beku. Menerbangkan kabut tebal seketika, membuka celah pada ruang sesak yang suram. Seperti membangkitkan kembali detak jantung yang berhenti, dengan irama yang sama, ketukan yang sama, tak pernah ada perubahan walau sudah divonis mati dan tak mau dihidupkan lagi.

Aku bingung, sebenarnya diantara kita siapa yang salah?
Dengan semua kejadian yang tidak pernah ada habisnya ini, aku selalu merasa kita berdua adalah dua orang bodoh yang selalu mengikat kuat perasaan, saling tarik-menarik, tapi tak kunjung kendur. Keduanya memang sangat bodoh, keras kepala. Saling tidak mau melepaskan apa yang mereka jalin sekarang. Tidak mau keluar jalur dan kecipratan caci maki alam semesta. Dua orang bodoh yang sama-sama mengaku suka, tapi enggan bersatu. Enggan beranjak memecah balon-balon zona yang sedang nyaman-nyamannya menjadi bulat. Padahal dua orang bodoh itu berdiri bersebrangan, dalam pijakan kaki lurus sejajar, mengurung diri dalam sangkar tanpa jeruji segarispun.

Bodoh.

Dunia memang kejam kalau sudah mencibir. Melecehkan ungkapan yang telah terlontar dari mulutmu. Jika kau tahu apa maksudku. Ya... prinsipmu itu. Terlalu kelu lidahmu untuk mengatakan yang sejujurnya bahwa memang pada kenyataannya masa lalumu tidak buruk dan kamu kadang mempunyai harapan yang besar untuk kembali. Tapi kukuhmu tidak membiarkan itu. Seolah menentang garis lurus yang tak boleh jadi bengkok sekuku pun.
Kamu memang tidak pernah mau mengaku. Tapi aku tahu kamu juga menyesal. Menahan sesak dan mencoba lupa. Menguatkan diri untuk tetap bertingkah mulus tanpa ada cacat. Tapi bayanganku ada dibelakang, dan kamu selalu menoleh untuk itu. Tanpa harus berkelok pun sebenarnya kamu bisa. Tapi martabatmu bagai memberi lampu sorot dari arah depan, mengajakmu secara kasat untuk berhenti menggunakan hati.

Kembali ke dua orang bodoh yang sama-sama menyiksa diri. Giliran aku yang juga tak mau kalah. Benar adanya ingin membuktikan bahwa aku bisa, mau, maju, tanpa kamu. Seolah mencari sosok yang baru, yang bisa jadi apa mauku. Sayang mereka sama... Tidak beda sepertimu.

Iya.
Ucapan yang menjadi kenyataan itu adalah kamu, dengan kebedaanmu itu. Kamu memang beda. Jauh berbeda dari semua rasa yang pernah aku cicipi. Semua panorama yang pernah aku tatap. Semua benda yang pernah aku genggam. Semua wewangian yang pernah aku sesap. Semua rumah yang pernah aku pijak. Semua hati yang pernah aku kasihi.

Tak berbentuk dan berwujud. Begitu saja mengalir bolak-balik menyusuri arus pikiranku. Kamu itu apa, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya kamu memang benar berbeda. Entah bagaimana mendeskripsikannya.. kamu seperti gumpalan yang bisa berubah-rubah setiap saat. Detik ini datang membuat senang, kemudian pergi membawa hati. Lebih rumit sampai tak terdeskripsikan, lebih mudah sampai bingung mau mendeskripsikan yang mana.

Menarik bukan? Mengulas kembali sesuatu yang dianggap sudah mati padahal belum satu napas pun ia lewati.

Aku tahu sekarang kamu sedang terkaget membaca ini, mungkin setuju, malu, mungkin tahu, mungkin mengiyakan seratus persen benar adanya. Atau malah mungkin merasa tersinggung, sinis, merasa tidak seperti itu, dan seolah tergebrak tanda ketidak setujuan. Semuanya terserah padamu. Apa yang aku rasa, aku lihat, aku dengar, dari semua kubikel-kubikel kecil disekitarku melemparkan kertas-kertas isyarat itu. Satu persatu muncul dan terlintas begitu saja. Maaf kalau semua yang aku tahu, dan aku rasa, tidak selaras dengan apa yang kamu tahu, dan kamu rasa.

Tapi kukira... sedikit banyaknya, kita sama.


 -----

Pra-novel untukmu.

Seketika aku jadi merasa berdosa dan sepertinya telah melakukan sesuatu yang salah besar... (lagi)
Aku kini terikat dengan entah siapa hati ku pun tidak menggubris. Keinginan semata untuk mempunyai pendamping yang bisa memberikan kenyamanan dan memfasilitasi apapun yang aku butuhkan, kenyataannya jauh dari kenyataan. Bukannya aku tidak mensyukuri, benar apa kata orang... waktu yang kusesap terlalu cepat bersamanya.

Aku masih buta akan sosok ini. Siapa dia dan darimana asalnya aku tidak paham. Keadaan memaksaku untuk memilih pilihan diantara pilihan lain yang tidak muncul. Keinginan untuk bertahan karena malu pada dunia aku pegang erat kini. Aku malu atas keputusan yang telah aku buat. Atas pilihan yang aku tunjuk. Aku salah. Salah besar sepertinya.

Aku tak tahu kenapa hidup bisa menjadi sesulit ini karena hal sesepele ini. Otakku rasanya tak mau berhenti berputar memainkan segala bentuk kesalahan yang aku perbuat, mempermainkannya seolah memang aku pantas diobok-obok seperti ikan hias incaran para bocah berandal.
Aku merasa sangat salah telah menuruti semua apa kata nafsuku yang memburu untuk mengikat seseorang dengan angan yang terlampau jauh akan sosok baru yang bisa lebih baik dari sebelumnya. Ternyata jauh lebih parah dari apa yang aku duga. Lagi-lagi sepertinya aku salah langkah.

Tidak dipungkiri kalau aku mencintainya lebih dari apapun saat ini, tapi cinta ini untuknya tidak senyata itu. Mungkin memang berjumlah banyak, tapi tak satupun dari partikelnya jelas berbentuk kasih sayang. Dunia memang selalu menipu manusia dengan mengasatkan mata kepala. Dengan giuran kebahagian duniawi yang begitu menusuk ke dasar perasaan. Memberikan secercah fatamorgana yang lekat dengan mata, tapi tak bisa teraih dengan tangan. Hanya daya khayal yang mampu merajuk. Fana.

Aku masih belum tau kenapa aku mencintainya saat ini. Aku kira, aku mencintainya karena aku sedang menginginkan seseorang untuk aku cintai. Aku kesepian. Aku kehilangan. Sosok-sosok yang aku rindukan telah menemukan kebahagiaannya masing-masing. Dengan kekongkritan atau tidak, aku tidak bisa membedakan.. yang terlihat olehku hanya satu persatu dari mereka yang hilang ditelan oleh kehidupan baru yang tercipta bersama hawa lainnya.

Aku ingin dengan lapang mencintainya. Dengan partikel dan atom yang utuh dalam wujud nyata berbentuk kasih sayang yang sesungguhnya. Ingin benar-benar merindukannya, bukan sekedar hanya butuh pelukan atau dorongan motivasi yang mengada-ada. Bukan karena aku sedang ingin mencintai dan ingin dicintai, melainkan tanpa alasan, tanpa batasan, tanpa keraguan, aku ingin bersamanya karena memang benar cinta itu ada.

----

Kembalinya masa lalu yang menciptakan suasana ragu semakin membuatku bingung. Terus terang... aku bingung. Goyah pada diriku sendiri. Benar adanya bahwa aku tidak percaya atas apa yang aku tuju. Tujuan hatiku tak jelas. Rabun sampai ia sangat gelap. Abu-abu membelit misterius, berkabut menyelimuti keikhlasan yang berubah haluan menjadi ambisi. Salah paham dengan semua yang terjadi di dunia ini membuat isi hatiku terkoyak-koyak. Melaju tanpa alur kesana kemari mencari-cari siapa yang sebenarnya aku inginkan.
Kembali aku diterpa keadaan gusar. Apakan benar aku salah pilih? Ataukan benar pilihanku, tapi salah waktu? Rencana Tuhan memang kadang mengejutkan. Dan kadang tak begitu aku bisa terima dengan leluasa. Keluh kesah kadang aku lontarkan, ketika keputusanNya adalah satu hal yang sama sekali tidak ada kemiripan dengan apa yang aku prediksikan. Tuhan kadang memang kejam dalam urusan mengoyak hati dan iman manusia, tapi itulah keadilanNya dalam memberi cobaan.

Semakin goyah kepercayaan ini terhadap kasih sayang yang samar-samar aku coba perjelas. Masa lalu memberiku ruang untuk melangkah mundur. Mengingat tentang keadaan dibelakang yang nyatanya harus aku akui lebih baik dari masa sekarang. Aku ingin mundur. Lepas dari semua kehendak yang aku tak suka ini. Kembali kebelakang dan mencoba memperbaiki apa yang salah.
Melayang-layang diudara bagaikan setitik debu yang kasat mata. Tak terlihat, bahkan tak tersentuh oleh kepekaan indera manusia. Tapi aku tahu bahwa itu ada. Itu... disitu.. selalu disitu... selalu menyebut namaku dalam rasa sesal yang tiada berakhirnya ia ucapkan.

Tapi tunggu...
Tunggu... aku melihat masa depanku, dan melihat masa depanmu. Disana. Masing-masing disamping kita. Kita... tidak bisa.

Sama sama terjebak dalam masa depan yang memborgol . bisa saja direntang sampai putus, tapi siapa mau hancur. Aku dan masa depanku, masalaluku dan masadepannya. Bergandeng tak tentu, mengaku satu tapi semua hanya bual. Bohong. Bukan. Kita yang satu. Bukan aku-masadepanku, ataupun masalaluku-masadepannya. Harusnya kita.

Beranjak dari segala romansa pilu ini. Katamu. Seandainya bisa, aku juga ingin berhenti. Tapi nyatanya tidak bisa. Harus bergerak maju dijalan masing-masing yang tak tahu sampai kapan harus kita lakoni. Terlalu kuat mata ini saling menatap tajam. Terlalu erat tangan ini saling mencoba melepaskan. Tak bisa. Tak semudah itu berpisah dengan kesan masa lalu yang buruk, yang mengaku buruk, dan berharap menjadi sesuatu yang bukan lagi buruk. Tapi salah waktu, salah.

Terlanjur basah tercebur dengan separuh hati yang lain. Separuh yang bukan separuh. Separuh yang tidak bisa dikatakan nyata, tapi bukan juga rekayasa. Terpaksa harus memerankan peran masing-masing dengan baik. Sehingga dimata jagat raya, kita luar biasa. Tampak tak ada gores setitikpun menyongsong hari bersama masa depan masing-masing yang baru. Tapi sama-sama teriris pilu saling memandang membayangkan kalau itu kami yang melaju.

Entah sampai kapan akhir dari masa lalu ini terkuak. Memberantas semua kisah pahit dan manis yang tak kunjung mendeteksi rasa nyata hasil perbuatan semua kerancuan ini. Siapa yang berhenti memanggil, siapa yang berhenti menarik, siapa yang berhenti berusaha, siapa yang berhenti jatuh cinta. Siapa? Belum tahu.
Kapan? Tidak tahu.

Tak pernah harus selalu berbicara. Dengan fasih koneksi yang menghantarkan. Berhenti atau tidaknya bisa dirasakan. Tapi sejauh ini garis itu belum terputus. Guncangan itu belum terbujur kaku. Terang itu tak pernah berhenti memancar. Selayak mercusuar yang selalu terjaga, gelapnya dunia, pejamnya mata, dan matinya rasa, tak pernah sekuat ini mendeteksi perasaan yang ditimbun begitu dalam. Karena seberapa dalampun semua itu terkubur, kita saling membangkitkan tak mau mati.





ps: menulis tercepat. rekor 2 halaman dalam waktu 8 menit. hebat.

Selasa, 01 April 2014

Dalam


Aku ingin terpejam saja
Tanpa harus melihat barisan huruf itu merangkai namamu
Aku ingin terpejam saja
Tanpa perlu aku berhadap muka dengan sosokmu

Aku ingin terbenam saja
Sehingga tak harus menyesap segenap aroma tubuhmu
Aku ingin terbenam saja
Sehingga tak harus mendengar mereka berucap sepatahpun tentangmu

Aku ingin tenggelam saja
Agar rasa kasih ini mati kehabisan napas
Aku ingin tenggelam saja
Agar kenangan lalu terkubur jatuh jauh ke dasar

Aku ingin meredam saja
Berhenti berangan tentang keabadian
Aku ingin meredam saja
Berhenti berharap tentang masa depan

Aku ingin terpejam
Aku ingin terbenam
Aku ingin tenggelam
Aku ingin meredam

Sayang beribu sayang... Perasaanku terpaku begitu dalam.

--- 270214

Senin, 31 Maret 2014

Cukup

Tidaklah sejengkal aku mematung
Tidaklah selangkah aku berhenti
Tidaklah sedetik aku berbalik
Tidaklah sekali aku menoleh

Cukup

Mematung aku tak lagi
Berhenti aku berharap
Berbalik aku terlalu muak
Menoleh aku mengucap pamit

Cukup

Selamat tinggal. 



31-03-14--

Sabtu, 01 Maret 2014

Cerita Bahagia

Kumulai dilembar baru
Masih putih mulus tak terjamah
Menggores tinta memahat cerita seru
Tanpa keluh tanpa kesah

Karena ingin aku beranjak
Tanpa sungguh berbalik lagi
Ini kisahku aku yang berhak
Ada atau tanpamu rupanya cukuplah semua elegi

Ini dia hari anyar
Ingin ku ubah, semua berubah
Meluap-luap rasa lega berkobar
Ya, kini ku tahu saatnya sedihku selesai sudah

Bahagia aku berbahagia
Tutur doa senantiasa ku hembus menelusuk ragamu
Sepintas rasa rindu tetap setia
Hanya saja kini ku hentikan lamunan semu

Beginilah rangkaian huruf itu tersusun
Mengembanglah merah senyumku seketika
Keinginan bahagia bukanlah di timbun
Tapi diwujudkan bukan dengan replika

Kini aku menulis cerita bahagia
Agar aku berhenti mengawan harap
Jelas aku menulis cerita bahagia
Ialah kau lukaku yang berhenti ku ratap

---280214

Senin, 24 Februari 2014

Berhenti terbit

Aku dan kamu bermusuh waktu
Mengapa?
Karena kita terhalang ragu

Aku dan kamu bertemu kaku
Mengapa? 
Karena kita terhalang pilu

Aku dan kamu berpisah tak mau
Mengapa?
Karena kita menimbun rindu

Aku dan kamu berharap satu
Apa?
Matahari terbit yang berhenti bertamu. 

22-02-2014

Sabtu, 22 Februari 2014

Jatuh


Dengan tangan kaki terikat
Gugurlah jatuh satu demi satu
Menghantam lembut saling bertabrakan
Berhamburan bersapa bergesek nyaring

Hilang asa ia pasrah
Menganut tangan angin untuk bergerak
Jauh rasanya menerawang ke atas
Ketika jatuh terperangkap

Di tempat itu ia melamun
Karena langit tak sebiru banyu
Porak poranda dilalap awan gelap
Terkena amarah sang halilintar

Satu demi satu tergantikan oleh yang baru
Sosok daun baru melambai hijau
Daun gugurpun hanya berkaca pada kekuningan
Tanpa sepatahpun ia tersenyum

Kamis, 13 Februari 2014

Lekat.

I still thinking about me.
About you.
About us.
And what we could be.

After all this time, can we fix it? Can we take that second chance? Can we? 


Mencoba aku untuk tidak peduli. Dengan semua angan semu yang mencoba memanah dan menjadikanku sasaran empuk. Berusaha tak melamuninya di setiap detikku yang kosong. Berusaha agak aku tak lagi terjerembab dan berakhir dengan luka yang serupa. Tapi datangnya kamu, kamu dengan berjuta-juta suratan yang tersirat
Semu. 
Muncul bagai letupan debu. Terlihat, tapi samar. Terasa tapi tak tergenggam,
Abu.
Kembali dengan secercah cahaya,  menembus benteng hitamku yang mengemas rapat akan semua tentangmu. 
Rancu.
Hati ini melonjak-lonjak merintih melihat setitik harapan yang samar kau tunjukan tapi kau tarik kembali karena adanya dia yang bersandar di bahumu.
Palsu.
Kasarku ku jejal menyesak ke lubuk. Andai aku cukup berani menantangmu, menunjuk tajam telunjuk ini ke arah wajah yang selalu bertamu di mimpiku itu, untuk sekedar mengharap sang pasti.

 Aku atau dia. Siapa? 

Sayang, mampuku hanya mematut memangku dagu menunggu. Mengubur lagi memori fana yang sempat kau korek dan bangkitkan.
Sejenak.
Mudah ucapmu berkata sesal, mengajakku mengingat kita dari asal. Dan pada akhirnya kalah lah benteng kokohku, tumpukan patahan hatiku yang telah ku susun ulang. Detik ini. Terus kau meyakinkan aku untuk tetap tinggal. Dengan mata penuh sesal. 

Detik ini. 
Tidak lagi.

Kembali kau dengannya. Membuatku kini menyusun ulang pondasi membatas diri, membenteng antara aku dan kamu bermaksud agar aku tahu diri. 
Hancur.
Muak aku percaya, lelah aku terima, omong kosong dan harapan memang tipis terlihat beda. 
Hebat.
Kau.

Lekat. 



Minggu, 15 September 2013

Part 10.

Persahabatan itu bisa bermula darimana saja. Kapan saja. Dimana saja. Dan dengan siapa saja.

Berawal dari hobi yang sama..
Dari sumber yang sama..

Tapi dengan perbedaan sifat dan tingkah laku, malah kemudian jadi semakin dekat.

Usia memang tidak akan menjadi patokan untuk mengukur kedewasaan, tapi dengan tercantumnya angka 1 dan 7, dengan sendirinya pribadimu akan terus mencoba terbiasa untuk melakukan sikap dewasa yang positif.

Bertambahnya nominal usiamu bukan berarti kamu semakin dekat dengan kedewasaan dan terlepas dari segala masalah yang kini sedang atau mungkin telah kamu hadapi. Tapi ini semua adalah awal untukmu menuju kehidupan yang sebenarnya.. 



Minggu, 11 Agustus 2013

Tanpa Judul Sepatahpun.

Aku berpikir dalam diam. 
Aku bertanya saat bungkam.

Mengapa sulit selalu terasa saat aku mencoba berhenti dan berbalik. Terlalu lekat rasanya mataku tak henti menatap ke satu arah. Terasa bising di telinga saat sederet kata itu mengalun. Menusuknya wewangian harum itu menjorok hidung. Sering kali kelu lidahku saat akan mulai berucap. Keram genggaman ini menarik tanganku untuk tak lepas. Terlalu berat kaki ini untuk melangkah menjauhi. Berlimpah cinta dalam hati ini akan wujud yang tak pernah menghargai cinta.

Terlalu sering aku berharap bahwa semua ini nyata. Tapi kenyataan tak pernah bisa berkata. Atau hanya aku saja yang terlalu buta.

Lelahnya batin dan pikiran yang tak henti berkecamuk saling membela perasaan satu sama lain. Mencoba untuk pulih dan lupa tapi masih terlalu pagi.

Seperti siang yang berlari ke arah malam. Seperti malam yang menyambut pagi. Seperti pagi yang menyajikan teriknya panas matahari. Siklus memang tak pernah bisa berubah. Ataupun tidak akan bisa aku merubah.

Terlalu perih rasanya bertahan. Terlalu naif bila harus melepaskan. Letih rasanya terus duduk berpangku tangan menunggu. Tiada hadir sedikitpun kau tampak. 

Terus bergelut dengan ke abu-abuan membuat sesak semakin parah. 
Bukan cinta namanya bila tak harus berkorban. Tapi tak pernah aku rasakan pengorbanan.

Apakah diluar sana pengorbanan harus dibayar dengan nyawa? Lalu aku serahkan hati yang telah mati ini, yang terlalu sering berkorban untuk terus mencintai. 

Seperti api yang terus menyala, kadangkala gelap lebih berkuasa. Tiadalah hal yang sempurna, apalagi aku yang tampak dengan mata. 

Berusaha selalu dicoba untuk hampir dekat dengan sempurna. Menghargai, mengerti, dan sabar ialah kunci dari ratusan rantai yang tergembok. 

Kembali ke abu-abu yang menyesakkan kalbu. Membuat semua indera mati rasa saat terucap kata semu. Sesemu dirimu. 

Terlalu mudah mengucap manis dan janji. Terlalu mudah percaya dengan menanti.

Ingin aku lepas dari sangkar tak berjeruji. 

Terlalu banyak kata tak tersampaikan di pikiran ini. Membayangi setiap langkah mundur yang susah payah ku jalani. Membawaku kembali melaju teracuni manisnya janjimu. Anganku terkabuti kisah sebentar kita yang biru. 

Langkahku dan langkahmu kian tak teratur. Membarikade pergerakan, saling menghalangi satu sama lain. Bagai melewati bara api yang memisahkan dua wujud yang ingin bersatu. Berdua kita bersikukuh pada tujuan masing-masing, tapi tak mau sedikitpun berpaling. 

Bukanlah aku yang meminta, bukanlah aku yang berharap. Tapi tiada anugerah yang lebih dari sekedar bisa mengerti kerancuanmu. 

Jika bukanlah masing-masing kita menyatu, lalu mengapa sampai kini kita tak pernah bisa jauh? Jika bukanlah masing-masing kita menyatu, lalu mengapa sampai kini kita selalu menggulung rindu?

Tak tahu sampai kapan aku menunggu dalam abu-abu. Tak tahu sampai kapan abu-abu akan berevolusi menjadi tak saru. 

Jika kau ingini aku dalam tidurmu, tunjukan pada bulan yang seringkali merindu. Jika kau ingini aku dalam hidupmu, tunjukan pada aku yang perlahan meragu. 

Kamis, 01 Agustus 2013

#CeritaDariKamar

Awalnya, gue memutuskan untuk pergi keluar sambil ngabuburit. Tapi ternyata, gue liat timeline-nya @benzbara yang ngajak followersnya untuk bikin cerita tentang 1 benda atau 1 hal yang ada di kamar lo selama 1 bulan agustus ini.
Gue sebagai followersnya Bara dan seorang tweople yang aktif juga baru tau kalau Bara ternyata seorang penyiar. wow.. Btw, gue juga (calon) penyiar. Gue lagi dalam masa training di salah satu radio besar di Bandung, kalau Bara kepo, langsung aja cek http://www.ardanradio.com atau @ArdanRadio. :) hehgehe...

Jari-jari gue mulai kikuk karena udah beberapa bulan ini vakum nulis. Biasanya gue juga sering banget mengungkapkan apa yang gue rasain di blog, kegiatan gue yang mulai numpuk jadi menghambat tulisan dan rencana gue untuk bikin buku sendiri. Hmmm... Semoga bisa cepat terealisasikan deh, dan semoga kalau Bara baca blog gue ini, buku gue bisa meluncur dan bersanding sama bukunya Bara. Hahahah.. never mind deh :p

Gue mulai memutar otak, benda apa yang bakal gue ceritain... sama sekali gak ada ide. Tapi seketika gue ngeliat 1 vas bunga yang kosong di meja belajar gue. Yang awalnya tempat dimana gue menaruh bunga (sampai jadi bangkai bunga) yang dikasih sama mantan gue. Tapi... Sekarang, bunganya udah gak ada. Bukan gue buang, tapi gue balikin ke mantan gue beserta hal-hal yang bersangkutan dengan dia.

Entah kenapa, kebiasaan gue untuk "mengembalikan" barang-barang yang sudah si mantan kasih atau barang yang mengingatkan gue dengan dia sudah mendarah daging. Gue termasuk cewek yang susah banget move on, apalagi kalau diingetin barang-barang yang ada hubungannya sama seseorang yang masih gue sayang, makin stuck-lah gue. Maka dari itu, gue balik-balikin semua barang-barangnya.

Sesi pengembalian ke mantan gue yang ke-2 sukses berat, karena gak lama setelah itu gue langsung bangkit lagi dari nangis-nangis dan murungnya gue. Tapi sesi pengembalian yang ke-3 ini agak sedikit mandek. Gue juga bingung, biasanya setelah gue ngembaliin semua barang yang berhubungan dengan mantan gue, semuanya berangsur membaik, tapi... Anehnya gue malah makin stuck sama mantan gue yang 1 ini. Padahal banyak orang bilang, dia gak lebih baik dari 2 mantan gue yang sebelumnya, malah lebih buruk dari sikap dia yang seenaknya ninggalin gue. Dia juga seringkali datang dan pergi selepas kita putus. Gue semakin bingung sama apa maunya dia.

Dari awal kita putus, sebenernya gue baru sadar beberapa minggu kebelakang, kalau ternyata gaada kata "putus" yang keluar dari masing-masing bibir kita, di chat pun nihil. Gue digantungin. Sampe sekarang. 1 bulan setelah putus pun dia masih ngucapin happy anniversary. yaa... konyol memang, namanya juga anak muda, pasti setiap bulan rutin ngucapin kan?

Dia seperti gak mau kehilangan gue, tapi gak mau punya ikatan apapun sama gue. Dia menahan gue untuk tetap tinggal, tapi dia sama gak mau terbebani sama gue. Seperti dia meminta gue untuk jadi rumahnya, tapi dia gak tinggal di rumah itu dan malah luntang-lantung diluaran. Setiap kali gue hampir suka sama orang lain, move on, bahkan gue sempet mau jalan sama orang lain dan BOOM! dia dateng lagi. Gue merasa kaya diawasin, dipantau, tapi dibiarin bebas setelah tau gue ada dalam batas amannya dia.

Yang gue tau, selama ini, baru dia kaya gini sama cewek. Dan cewek itu adalah gue. Gue bahkan kayak punya ikatan batin sama sebagian keluarganya karena gue adalah cewek pertama yang dia bawa ke keluarganya. Gue gak tau kenapa, tapi gue selalu dapet feeling untuk tau apa yang dia maksud, apa yang dia tuju, apa yang dia mau. Gue merasa, sampai saat ini, baru gue yang bisa mengerti dia, sifat kekanak-kanakannya, sifat kebebasannya. Gue gak pernah mengerti seorang cowok sedalam gue mengenal dia. Padahal, kalau mau dibandingin, gue sama 2 mantan gue yang sebelumnya kenal lebih dari setengah tahun, bertahun-tahun malah, tapi sama dia? 2 bulan doang.

Jujur, baru kali ini gue bener-bener stuck.
Stuck dalam artian bukan di 1 pihak aja, tapi di 2 pihak. gue dan dia, sama-sama stuck. Kita kayak yang sama-sama bingung harus kemana, kita sama-sama gak mau ngulangin kesalahan yang sama, tapi kita juga sudah merasa nyaman satu sama lain, karena dari masing masing kita, gak ada satu sifatpun yang disembunyiin. Tapi kadang, dia sering banget nutupin apa yang dia mau ungkapin, gue jadi pusing sendiri karena sikap dia yang tiba-tiba jadi menutup diri. Yang gue liat, dia sebenernya cari perhatian, tapi... cari perhatiannya... mirip banget sama anak kecil. Padahal dia 2 tahun lebih tua diatas gue, tapi sifat kekanak-kanakannya seperti 5 tahun dibawah gue.

 Seringkali, janji dia sama gue sering gak jadi, gagal. Gue tau alasan-alasan dia itu cuma mimik doang, sebenernya dia udah buat janji sama temennya lah, atau cuma sekedar nuntasin game PS atau main dotA. Dia masih kayak anak kecil banget, dia masih belum bisa jadi apa yang gue mau, tapi cuma dia yang bisa bikin gue lebih sabar, lebih dewasa, dari sikap kekanak-kanakannya itu.

Gue pengen banget bisa bikin dia lebih dewasa dari sekarang, bisa lebih menghargai apa yang dia punya, apa yang ada di sekelilingnya. Gue pengen banget bisa bikin dia lebih serius dari hidup dia yang segala dibawa santai. Emang bagus sih kalau punya sifat santai, jadi ya gak bakal terlalu ribet kalau ada sesuatu yang sedikit destroy his life, tapi.... sometimes, dia juga sering menggampangkan semua hal dari sifat santainya itu. Memang sampai sekarang belum keliatan efek sampingnya, tapi gue takut suatu saat, dia dikasih liat imbasnya sama Tuhan.

Kalau boleh jujur sih, sebenernya gue cape gini terus... Dia sama sekali gak pernah mau mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, di hatinya. Dia terlalu gengsi dan terlalu men-"entar-entar"kan segala sesuatu hal. Gue sempat membanyangkan bagaimana jadinya kalau gue beneran move on dari dia. Bukannya kepedean, tapi... gue rasa dia bakal kehilangan gue. Bakal kehilangan orang yang bisa mengerti dia. 

Gue gak tau sampai kapan gue dan dia berada di posisi ini terus, kita sama-sama gak mau pisah, tapi.... ketidak adaan status antara gue sama dia selalu jadi penghambat dan jadi penghancur konsentrasi gue. Gak ngerti deh, gue masih terus membiarkan arus yang dia buat membawa gue terombang-ambing, gue masih mengumpulkan kekuatan untuk berani bertanya sama dia atas apa yang dia mau atau... stop dan pergi.

Hal kayak gini emang gak bisa dingertiin sama otak yang pake logika. cuma bisa dingertiin sama hati yang punya rasa cinta...

Gue kembali melihat vas bunga yang ada di meja belajar gue dan cuma bisa berharap yang terbaik untuk gue dan dia. Hmmm... Mungkin masih akan terus begini, sampai salah satu diantara kami ada yang maju, atau mundur.

Karena cinta bukan soal baru, atau lama. Cinta itu... dimana kamu bisa merasa nyaman tanpa berusaha.





Selasa, 28 Mei 2013

Karena dari 1001 pertanyaanku, jawabannya hanya 1... Kamu.

Aku bingung. bagaimana bisa aku terus-terusan berdiam diri mematung menunggui kamu untuk berbalik arah dan kembali padaku lagi? Bagaimana bisa aku bersikukuh seperti ini? Apa alasanku? Mengapa aku masih mengharapkan orang yang belum tentu mengharapkanku?

Aku masih terbelit bingung. Bingung karena sikapku sendiri yang masih saja selalu memperdulikanmu. Yang masih saja terus berkutat dengan hal-hal yang kamu suka. Padahal kamu sendiri terlihat acuh, tak mau peduli, dan seakan ingin lupa tentang kamu, yang dulu. Bersama jejakku dan kita di masa lalu. Begitu banyak pertanyaanku tentang kamu. Kamu yang begitu gelap, tersembunyi, dan samar-samar. Kamu begitu abu-abu. Begitu tak terdeteksi apakah hitam atau putih. Apakah jelas atau buram. Kamu seperti noda, hilang tapi tak benar-benar terhapus jejaknya.

Ya, aku tahu. begitu terlihatnya kamu yang masih belum mengerti tentang siapa aku, bagaimana sifatku, dan apa kekurangan dan kelebihanku. Kita terlihat sama. Tapi ternyata jauh berbeda. Dan kamu... Ya, kamu.. Tak pernah mau bertanya. Tak pernah mau ingin tahu tentang aku.

Aku merasa berbeda. Jauh berbeda setelah aku mengenalmu. Setelah kita bertemu. Setelah kamu dan aku bersatu. Aku merasakan ikatan yang begitu erat. Entah mengapa, sampai sekarang aku percaya bahwa sesuatu telah meracuni aku, dan kamu.

Sesungguhnya, ikatan apa yang telah kau buat sedemikian rupa? Sehingga aku hanya bisa terpaku di tempat menyakitkan ini berharap kau memutar arah kebelakang, kepadaku. Sampai detik ini, meskipun kau telah memutuskan untuk pergi, yang ku rasa adalah kau tak benar-benar pergi. Kau masih mengikatku, membawaku kemana yang kau mau. Menyeretku kesana-kemari sesuai nuranimu dan yang ku lihat, kau pun begitu. Aku masih merasa tersangkut padamu. Entah gembira atau petaka... Tapi yang ku rasa adalah kau dan aku masih saling rindu satu sama lain. Tapi kita terhalang benteng ketakutan. Dimana kau takut tak sebebas kini, dan aku tak seleluasa sekarang.

Iya... kita saling rindu. Kita saling mau. Tapi kita berpikir buntu untuk kembali bersatu. Aku bukanlah cendekiawan yang mampu menembus pikiranmu, tapi mana ada hati yang bisa berbohong? Dari setiap uraian kata-kata yang kau tuliskan, kulihat kasat keinginanmu untuk kembali seperti dulu, tapi kau terlalu munafik untuk mengakuinya.

Aku tak akan pernah merenggut kebebasanmu. Selama itu membuatmu bahagia. Aku tak akan pernah menggubris ketenanganmu, selama itu membuatmu tak sengsara. Aku mungkin egois tapi hanya denganmu aku bisa belajar untuk mengikhlas. Aku mungkin pemarah tapi hanya denganmu aku bisa belajar untuk bersabar.

Aku si terang dan kau si gelap. Aku yang terus mencari kegelapan untuk dipancari sinar terang tapi kau yang gelap terlalu betah berada di dalam sana. Tapi suatu saat, kau si gelap akan membutuhkan aku si terang seredup apapun itu. Karena tanpa terang, kau tidak akan tahu apa itu gelap. Dan tanpa gelap, kau tidak akan tahu apa itu terang.


Aku masih yakin, ada sesuatu hal yang membuatku tetap tinggal, dan sesuatu hal itupun yang membuatmu sering menengok kebelakang. Pertemuan yang singkat mungkin memang tak melahirkan kisah yang banyak. Tapi dari pertemuan singkat ini aku menyadari bahwa dari 1001 pertanyaanku yang sampai sekarang belum terjawab, kamulah yang bisa menguraikan. Karena jawabannya ada 1, dan itu hanya kamu.

Sabtu, 09 Maret 2013

Cewek Duluan? Why Not.

Kalau bicara soal emansipasi dan "ladies first", pasti cewek selalu mempergunakan hal-hal itu untuk membela atau menyelamatkan diri. Ya... wajar. Untuk itulah fungsinya.

Tapi kalau udah bicara soal cinta, biasanya cewek pasti pingin selalu "didahului" oleh cowok.
Betul? Ngerasa?

Mungkin cowok suka jadi sebel sama cewek karena cewek yang selalu mau cowoknya melakukan ini itu ini itu duluan, contohnya menghubungi duluan, telfon duluan, ngajak ketemu duluan, ngucapin selamat pagi, selamat malam duluan, and another sweet things. Tapi kalau gak dipenuhi, cewek biasanya suka ngambek dan hal itu yang bikin cowok kehabisan "energi" untuk menghadapi cewek.

Menurut pandangan cewek, cowok yang melakukan apa-apa duluan itu terlihat sweet, terlihat fighting for her, dan terlihat sayang banget sama dia. Mungkin kadang, hal sesepele ini juga bisa bikin hubungan 1 pasangan jadi sedikit tidak harmonis. Dan kebanyakan, hal ini bikin cewek-cewek jadi agak-lebih-sedikit manja dari sebelumnya.

Sebaliknya, dari pandangan cowok, saat ceweknya minta diperhatiin dan minta "apa-apa duluan" mereka awalnya senang, karena merasa dianggap dan merasa satu-satunya yang selalu memperlakukan ceweknya seperti itu. Tapi, pada akhirnya, si cowok jadi merasa gak diperhatikan dan jadi males untuk memperlakukan ceweknya dengan treat yang gitu-gitu terus. Cowok juga pingin diperlakukan seperti apa yang dia lakukan buat ceweknya. Akhirnya si cowok merasa gak diperhatikan sama ceweknya. Dan hal ini yang biasanya bisa bikin cowok jadi cepat bosan sama hubungannya.

Sebetulnya, baik cewek maupun cowok sama-sama memnginginkan 1 hal, sama-sama ada yang memperhatikan, sama-sama ada yang menyemangati, sama-sama dibikin merasa nyaman. Namanya juga manusia yang pasti masing-masing punya keinginan tapi... mungkin belum bisa dipenuhi sama pasangannya. Nobody is perfect, right?

Siapa sih yang gak mau diperhatiin terus-menerus sama pasangannya. Sayangnya, siapa yang tahan bekerja non-stop kalau gak dikasih makan? So, setiap hubungan pasti harus selalu seimbang. dimana satu memberi, dan yang satu lagi menerima dan memberi feedback balik. Tapi kadang, hubungan timbal-balik ini sedikit-agak macet karena salah satu "keenakan" dengan treat yang "tidak biasa".

Sama halnya dengan... putus. Kadang, cewek pasti lebih milih mutusin daripada diputusin. Dan jahatnya cowok, kebanyakan "gak tega" sama ceweknya dan nunggu untuk diputusin. Cowok biasanya melakukan hal sebaliknya dari apa yang diinginkan cewek biar ceweknya dengan lebih cepat bisa "mengakhiri" hubungannya.

Tapi dari sisi cowok, mereka lebih suka untuk bikin si cewek jadi benci sama dia daripada harus terlihat "kasar". Hal itu mungkin lebih baik daripada harus menyakiti ceweknya terlebih dahulu dengan kata-kata yang sebenernya biasa aja tapi bisa bikin cewek gak makan berhari-hari. "Kayaknya.. kita temenan aja deh"

Mungkin bagi yang udah pernah nonton RadioGalauFM, khususnya cowok, agak sedikit was-was atau mungkin deg-degan, bahkan menyesal atau takut. Ketika rasa "bosan" itu sudah pergi dan lo kepalang mutusin cewek lo, dan kemudian lo pingin balikan tapi sayangnya... Cewek lo sudah terlanjur move on. Beda cerita ketika si cowok sebenarnya kangen, pingin balikan, tapi gengsi. Padahal si ceweknya juga masih sayang dan tetap menunggu.

Sebenernya, gak ada salahnya ketika kita, cewek, ternyata mengetahui bahwa si mantan ternyata masih sayang lalu ternyata lagi kangen sama kita, dan kita sendiri masih belum mau dan belum bisa move on dari dia, menghubungi dia duluan. Sah-sah aja ketika kita juga sebenernya kangen sama dia. Tapi sayangnya, baik cewek maupun cowok kadang masih memiliki sifat gak penting seperti "gengsi". Saat kita takut akan hasil atau jawaban yang gak sesuai sama keinginan kita dan akhirnya... menanggung malu, sedih, dan sakit hati.


Sampe sekarang, jujur, gue juga masih takut untuk menyapa dia duluan. bahkan gue yang masih terus memendam harapan untuk balikan pun tetep gengsi saat temen-temen gue nyuruh gue untuk meminta balikan duluan sama mantan gue. Gue terlalu naif, tengsin dan ya itu tadi.. takut dengan hasilnya, yang bisa jadi gak sesuai dengan apa yang gue inginkan. Tapi merupakan sebuah kemajuan buat gue ketika suatu hari gue dengan beraninya menekan tombol enter dan mengirim message "Ich vermisse dich" yang dalam bahasa indonesia berarti "aku kangen kamu" ke dia. Sayangnya, message gue cuma dia read. Tapi, gue benar-benar merasa lega ketika tahu bahwa message gue di read sama dia. At least dia tau apa yang gue rasakan buat dia.

Sampai sekarang juga, gue masih belum bisa sekedar ngobrol biasa sama dia. Untuk memulaipun gue masih kesusahan, harus cari topik apa, bicara soal apa, dan mendorong dia ke arah mana supaya sedikitnya dia tau apa yang gue rasain, gue maksud dan dia bisa terpancing untuk akhirnya bisa membahas kita yang sampai sekarang masih sama-sama gengsi dan sebenernya masih sama-sama sayang. Pada akhirnya lagi-lagi gue anggap semua kejadian, rasa, dan feeling gue ini cuma keinginan yang kebetulan terjadi. Lalu dia yang cuma sebatas kangen sama gue. Gak lebih. I won't say anything, I won't think it deeply. Cause I won't turn back hoping.


Tapi, kenapa sebelum tau hasil yang sebenarnya kita udah duluan mundur? Kenapa kita gak coba? Kenapa kitra sebagai cewek harus selalu menunggu dan gak bisa memulai duluan? Kenapa cewek harus berakhir lemah dan cowok yang selalu terlihat menang dan berhasil membuat cewek jatuh cinta sama mereka? Kenapa kita, cewek gak bisa kayak gitu? Cewek berhak memulai duluan, cewek berhak menyapa duluan, cewek berhak menyatakan perasaannya duluan, cewek berhak mengajak balikan duluan, sebelum semuanya terlambat dan cewek cuma bisa lagi-lagi menyesal karena gak pernah bikin cowok yang dia sayang tau apa yang cewek rasain buat si cowok Kita gak akan tau hasilnya kalau kita sendiri belum mencoba. Cewek duluan? Why not?


Mungkin, untuk saat ini gue masih terlalu munafik untuk menyembunyikan semua yang gue rasain. Tapi ketika suatu saat gue udah siap, gue, sebagai cewek akan memulai semuanya, duluan.

Senin, 04 Maret 2013

Tidak Ada Move On Yang Bisa Dipaksakan.

Move On? Gampang, saat lo cuma ngomong doang. Lain cerita ketika lo harus melakukannya.

Move On? Siapa sih yang gak tau tentang hal ini? Ketika lo terjebak diantara pilihan yang menurut lo baik, tapi menyakitkan. Dan kenyataan berkata lain. Dan pada akhirnya lo harus terima sama kenyataan kalo apa yang lo harapkan jauh dari kenyataan. Dan klimaksnya adalah lo harus m o v e  o n.

Era modern gini, siapa sih yang gak mengalami galau? dari hal seujung jari sampai yang segede gaban, pasti digalauin. hari ini mau makan apa ya? besok pake baju apa nih? rambut digimanain? ganti parfum gak ya? ganti DP jangan? mending tweeting atau belajar? atau.. stuck sama dia, apa move on?

Buat lo yang mungkin belum pernah ngerasain yang namanya susah Move On, SELAMAT! suatu saat lo gaakan bisa menghindar ketika hal itu terjadi sama lo. Itu yang gue rasain, sampe detik ini. Lets say, gue masih sangat stuck.

Ketika lo sayang sama seseorang, tapi orang itu ternyata gak lebih sayang sama lo. Ketika lo sayang sama seseorang, tapi dia sama sekali gak sayang sama lo. Ketika lo sayang sama seseorang, tapi ternyata dia sayang sama orang lain. Atau ketika lo sayang sama seseorang, tapi dia milik orang lain.

Gue sempat mengalami semua itu. Ketika harapan gue digembungkan sama seseorang sampai melambung ke langit dan pada akhirnya ibarat balon, gue dibiarkan mengapung, diabaikan, kempes, bahkan meletus. Its sad. Ya, its really painful. But then you have to realize. you have to move.

Kemarin, gue dipaksa move on sama teman-teman dan sahabat gue. Mereka membiarkn gue untuk menangis sekencang-kencangnya. Meratapi semua yang udah dia lakukan sama gue dan nge-push gue untuk sadar dan akhirnya move on. Mereka sampai nekat menghapus contact BBMnya dia dari handphone gue. Tapi gue gak mau. Secara gak langsung, mereka membuat gue bodoh dan mengajarkan gue untuk bersikap instant. Untuk tidak belajar. Supaya gue gak paham dan mengerti. Agar gue tidak mendapat hikmah atas apa yang Tuhan tunjukkan ke gue.

Move On itu bukan suatu hal yang harus dilakukan secara cepat. Bukan hal yang mudah, enteng, kecil. Bukan hal yang harus dikerjakan secara instant. Gue gak mau melewati proses ini dengan gampang. Dengan alay-nya menghapus contact BBM dia, meng-unfollow lalu memblock twitter dia. Membuang semua barang yang dia kasih atau yang berhubungan dengan dia. Menghapus semua kenangan yang pernah gue dan dia lakukan bareng-bareng. No, its too pathetic. Gue masih mau untuk menjalin hubungan yang baik sama dia. Bukan seakan gak kenal siapa dia. Bukan menghindari dia. Bukan gak peduli lagi sama dia.

Gue yakin, se move on-move onnya seseorang, dia gak akan bisa lupa 100%. You can't change any filled page. you just have to write on the new one. Sama hal-nya ketika lo merobek kertas dengan paksa. Pasti ada bekasnya. Walaupun itu sedikit, samar, abu-abu, tapi bekas robekan itu pasti masih akan sangat terlihat jelas dan gak bisa lo ilangin dengan rapih. Kecuali, lo pilih cara instant untuk mengguntingnya, atau cara yang seharusnya, pelan-pelan.

Saat lo kehilangan orang yang lo sayang. Sebisa mungkin lo harus terima itu semua. Dibalik semua ini, masih ada yang sangat sayang sama lo. Ya.. Tuhan. Jujur,  gue akui, hal semacam "ikhlas" "menerima" "sabar" dan "believe in miracle" itu sulit dipercaya karena kita terlalu fokus sama apa yang seharusnya gak kita tuju.

Sometimes, what you really need seems blur, and what you shouldn't care of seems focus.

Ketika lo susah move on, just enjoy yours. dan ketika lo mengambil cara yang benar, bertahap, believe in your heart, dan tidak mengambil cara instant, niscaya someday lo akan jadi seseorang yang luar biasa hebat dari lo yang sebelumnya.

Move it right. Move your heart carefully. Yourself also knew that its so fragile. Don't let anyone ruin your own way. Cry if you wanna cry, mad if you wanna mad, confuse if you wanna confuse, frustrate if you wanna to. After all of it happened, you'll know how tough you are and don't forget to follow your heart, not other's opinion. Because it is you, not them.


Kamis, 28 Februari 2013

new page, but old story to write.

so... this is the last day of February 2013! time fly so fast......

28 Februari 2013 mungkin menjadi penutup bulan ini. tapi enggak untuk menutup hati gue sama dia. masih belum bisa gue menutup hati sama dia. apalagi membuka buat yang baru. enggak deh. sama dia atau enggak sama sekali untuk saat ini.

14 hari atau sekitar 2 minggu, setelah berpisahnya gue sama dia. not that hard. but not that simple as seen. gue mungkin bisa lupa sama dia. tapi enggak dengan apa yang gue rasain ke dia. belum. belum bisa. rasa ini belum punah juga untuk dia. padahal dia orang yang sangat berbeda, langka.

angan gue berenang-renang ke sekitar 1,5 bulan yang lalu. mungkin tepatnya.. saat tahun baru. dan sampe detik ini, gue masih selalu inget dan inget gimana dia dulu, gimana tingkahnya dia. gimana dia dan gue adalah bukan pasangan yang sempurna, yang banyak orang puji. dimana kami adalah pasangan yang gak beraturan, bebas, fun, dan enjoy.

we talk like best friend. we protect like sibling. we argue like couple. we love each other like free.

dan lagi-lagi.. gue kembali dengan cerita lama gue. cinta lama gue. luka lama gue. yang sampai sekarang masih merah. masih belum kering. karena gue mau cuma dia yang nyembuhin gue. bukan yang lain. mungkin orang akan beropini bahwa it won't last forever, sooner or later gue pasti bisa move on juga. tapi... susah. gue tidak segampang itu untuk move on. untuk menaruh hati pada seseorang. untuk percaya pada seseorang. gue gak bisa tapi sayangnya, gue adalah orang yang cepat percaya ketika "bukti" se kecil apapun sudah "seseorang" itu tunjukan ke gue. dan akhirnya gue terjebak sendiri ketika tau "seseorang" itu tidak se-serius apa yang gue kira sama gue. let me say... korban harkos.

pada awalnya, gue gak tau bahwa dia yang punya niat untuk memliki gue. gue malah sibuk meratapi nasib gue yang di beri harapan palsu sana dua cowok. gue masih sibuk membasmi pecahan-pecahan cowok-cowok itu yang masih menancap dan menyayat hati gue. gue sama sekali gak menganggap kalau dia serius. gue menganggap dia temen baik. dan gue tidak mengharapkan apapun dari dia selain temen chat. lama kelamaan gue dan dia semakin akrab dan intensif dalam chat. dan seketika dia menghilang.. gue merasa kehilangan. tapi gue gak bernah berpikir sejauh itu.. bahwa ternyata dia yang gue anggap sebagai temen doang, adalah dia yang ternyata dengan tidak ragunya menyatakan kalau dia yang suka sama gue.

yea.. its just teenager's love life. take it easy, its not that serious. just enjoy it. hey... its not that easy. yes it was. its just teenager's love life. I know, I'm not taking this that serious but I want to do it right. I wont hurt people. hurt my self either. I really enjoy it but what would you do if the one who said love to you, in the end leave you without left any words? will you ENJOY it?

seseorang bilang, "lo harus siap patah hati ketika lo membuka hati dan jatuh cinta" ya.. gue harus siap. gue harus menikmati apa yang gue rasain sekarang. antara luka, rindu dan memendam. antara sedih, sayang dan menahan. antara tangis, ikhlas dan bertingkah seakan semua baik-baik saja.

kadang gue heran dengan dia yang terlihat mau, tapi gak ada keinginan untuk meraih. se-kecil itukah "kita" di matanya sampai dia gak melihat bahwa semua itu sangatlah besar? se-jauh itukah "kita" sampai dia gak mau merangkak untuk menggapainya? se-sulit itukah "kita" sampai dia gak mau berusaha untuk sama-sama menjalaninya? se-ringan itukah "kita" sampai dia membiarkan gue terbang sendiri dan jatuh di sisi gelap dan tak pernah dia temukan lagi?

helaan nafas gue sesekali membuat semakin sesak. cuaca se-cerah inipun masih gak bisa bikin hati gue se-cerah dulu. se-cerah saat gue sama dia. se-cerah saat gue tau bahwa gue milik dia, dan dia milik gue. se-cerah saat gue tau dia disana, meskipun dia gak memberi kabar sama gue. se-cerah saat LED handphone gue tiba-tiba berubah menjadi warna-nya. warna biru. dan langit yang biru ini tetap gak akan bisa bikin LED handphone gue jadi warna biru lagi.

Selasa, 26 Februari 2013

memendam.

Selamat pagi! iya.. kamu..

Selamat pagi untuk kamu. kamu yang masih menahan diri untuk mengucapkan selamat pagi untuknya. kamu yang masih selalu memperhatikan contact BBMnya. kamu yang masih selalu meng-enlarge display picturenya. dan kamu yang masih selalu men-discard tweet kamu yang hanya ingin bilang bahwa kamu rindu akan hadirnya dia disisimu.

pagi ini gue terbangun dengan keadaan yang sama sekali gak fit. pusing. kurang tidur salah, kelamaan juga salah. dengan suara serak gue tergopoh-gopoh bangun dan meraih handphone gue yang masih terkait pada charger-nya.

ternyata dia masih membalas BBM gue kemarin malam.

kemarin lusa, gue keasyikan mixing, dan main PS di Ardan. dan seketika lupa naro handphone. dan dia bilang sama gue kalau pas gue lupa itu, ada yang ngobrol sama dia. dan dia bilang.. "salut sama kamu ;)" gue kaget. dia.. salut kenapa? gue hanya kebingungan dan menjawab "salut apaan? emangnya aku geri..-_-" dan huruf R besar memecah euphoria menjadi hening kembali.

gue bingung. gue harus meluapkan perasaan ini sama siapa lagi kalau bukan ke dia. orang-orang terdekat gue udah bosen dan bosen untuk dengerin betapa gue masih berharap dan terus memendam semua ini dibalik dia.

gue juga cape kalau harus jadi bayangan terus. yang sama sekali gak dia lihat. yang sama sekali dia gak tau. yang sama sekali gak berwarna dan gak menarik buat dia. what should I do?

kenapa rasa lelah selalu kalah dengan rasa sayang yang malah bikin gundah...

gue gak tau harus menyembunyikan semua ini sampai kapan. membuka, menjejalkan, dan menutup lalu memendam semua yang gue rasakan buat dia.

kenapa dia begitu beda. caranya memperlakukan gue gak sama kaya apa yang cowok-cowok basi lain lakukan ke gue. memang sih, klasik kalau cowok nembak cewenya sambil bawa bunga, awalnya memang blooming, yaa.. kaya bunga yang dia kasih, makin sini makin layu. makin basi, dan ujung-ujungnya, nothing. tapi.. dari awal, dia mengajarkan gue untuk gak manja sama cowok. sifat dia yang memang dingin, bikin gue kebal, bikin gue malah jadi tambah dewasa, bikin gue bisa lebih sabar untuk menghadapi dia dan masalah apapun yang ada di sekeliling gue. mungkin dia gak sadar. tapi efek yang dia limpahin ke dia begitu ngena dampaknya, buat diri gue sendiri dan buat orang lain.

gue sering merasa menyesal ketika ke-childish-an gue keluar. saat gue kangen sama dia dan gue gak bisa menyembunyikannya. menyembunyikan dari dia yang sibuk, dia yang lagi have fun sama temen-temennya, dan berujung ribut. saat gue kesel sama tingkah dia yang grasak-grusuk dan malah balik marah, bukan jadi oabt penenangnya. saat gue belum terbiasa akan sifat dia yang dingin, dan gue malah berbalik dingin, bukan membuat dia menjadi hangat sama gue...

gue akuin, gue belum bisa terbiasa dengan sifat dia yang dingin. ya.. itu tadi, treat dia yang benar-benar jauh berbeda sama 2 mantan gue yang bisa dibilang... sweet. gue bukannya membanding-bandingkan, tapi seumur-umur gue pacaran, baru dia yang bisa bikin gue gak terlalu ribet lagi. dari mulai menghadapi masalah, merencanakan sesuatu, dan menjalani apa yang gue jalani. he said once.. be free.

gue melihat lagi contact dia, dengan huruf R besar yang masih bisa dengan jelas gue baca dari jarak kurang lebih 30cm.

gue kangen sama lo, nyet.

we didn't make any promises, we didn't say anything except love, we didn't say anything after all of it was over.

gue yang terus berharap suatu saat ada kata kembali dari mulutnya. kata sayang yang terpancar dari matanya. kata rindu yang terukir dari pelukan eratnya. dan kembali disini.. gue, gue yang masih terus menyembunyikan, mendesak perasaan gue untuk tidak mengacaukan semua ini, menutup rapat-rapat hati ini yang didalamnya adalah dia, semua tentang dia, dia.. yang mungkin harus gue kubur entah sampai kapan.

selamat pagi, sayang. ku rindukan kamu. kamu yang berbeda. kamu yang jenaka, kamu yang jahil, kamu yang selalu bisa membuatku menjadi lebih bebas dan tidak terkekang, kamu yang selalu menyembunyikan kecemburuanmu, kamu yang selalu ingin bersandar dibahuku, kamu yang selalu tertawa dengan lepas, kamu yang apa adanya kamu. kamu.. yang aku sayangi.

dan semua kata-kata itu.. hanya bisa gue pendam. entah sampai kapan..




Senin, 25 Februari 2013

enggan beranjak.

Hari ini, dengan tiba-tiba contact BBM gue ilang semua secara misterius. Entah BB gue yang error atau...
secara tidak langsung BB ini mengajarkan gue untuk move on...



gue panik, blackberry gue cuma memunculkan warna putih blank ditambah tulisan-tulisan gak jelas ditengahnya. salahnya, gue klik tulisan itu dan tiba-tiba me-reboot lah blackberry gue. setelah sekitar 5 menit, BB gue nyala. pas gue klik simbol BBM, tiba-tiba muncul sesuatu yang janggal di layar. BBM gue ternyata ter-restart dengan tidak ada warning sama sekali sebelumnya. so that's moment totally ruin my mood on this MONster fucking DAY. contact BBM gue hilang semua. bersih, semua category diakhiri dengan angka 0. gue saat itu langsung pingin buru-buru pulang.

gue masih terus memperhatikan contact BBM gue yang baru 7.. 8.. 9.. sebenernya gak masalah sih hilang atau enggaknya semua contact BBM gue ini. yang gue permasalahkan adalah beberapa.. mungkin setengahnya dari contact BBM gue adalah orang-orang penting. dan yang menurut gue penting. ya.. dia.

pikiran gue sudah melambung jauh ketika saat gue nanti me-reinvite pin BBMnya dia, dan dia tidak mau meng-accept gue. jleb... perasaan gue sangat campur aduk yang ternyata hanya di dominasi oleh pertanyaan "apakah dia akan meng-accept pin BB gue lagi? atau tidak?" senin sore yang kelabu. gue masih berjalan menuju rumah ketika pikiran itu melintas.

"apa tuhan memang menyuruh gue untuk move?"

tapi... kenapa begitu sulit. berhubung gue adalah seorang muslim, gue sempat sekali sampai shalat tahajud untuk minta pertolongan sama tuhan untuk kasus susah move on gue ini. gue minta jalan terbaik, antara stay on him or leave him then move. tapi ini yang gue dapet. hasilnya gue malah semakin susah lupa sama dia. dan gue rasa dia juga masih sayang sama gue. tapi ada sesuatu antara kita yang dengan tidak terstrukturnya membentengi kita dan membuat kita jadi gini.

apa mungkin dengan hilangnya semua contact BBM gue, sudah seharusnya gue melupakan dia? berhenti untuk tahu bagaimana kabarnya? menahan diri untuk tidak kembali menoleh ke arah dia? dan ahkirnya menguburnya bersama berjuta-juta kenangan manis yang sudah dia bentuk sedemikian rupa? enggak. gue rasa itu semua lebay. gue gak mau lupa tentang semua hal yang menyangkut dia. semua hal yang berhubungan dengan dia. gue... masih terlalu stuck.

gue coba me-reinvite dia tadi siang. berharap pending request itu menghilang karena pin BB gue sudah dia accept. gelisah menyerang tubuh gue sampai berkeringatlah daerah tengkuk gue. perlahan mengucur disela pelipis dan turun ke pipi, gue kemudan mengusapnya dan beristighfar. di perjalanan pulang ke rumah, gue cuma bisa pasrah dan percaya bahwa hal sesepele apapun pasti udah direncanain sama tuhan. mungkin gue gak bisa liat dia lagi yang gonta-ganti dispaly picture, pasang status, atau sekedar update lagu yang lagi dia denger. bahkan liat display namenya aja mungkin gue udah gak bisa lagi..

alhamdulillah... sehabis gue makan malem dengan muka kusut yang sedari siang masih dengan lekatnya meng-cover-i muka gue, dia akhirnya meng-accept bbm gue. ada perasaan senang yang begitu meledak-ledak. ternyata dia masih mau gue ada di antara contact BBMnya. tapi, disatu sisi gue merasa heran. kenapa ya.. kenapa dia masih mau meng-accept BBM gue? adakah harapan, tuhan?

sampailah saatnya ketika gue melakukan test contact ke beberapa orang yang gue kenal, dan gue anggap penting untuk dihubungi, dan salah satunya dia. seketika dia membalas broadcast-an gue dengan "kenapa bebemu?"
kenapa dia harus care? ah, mungkin KEPO.
gue memberi tahu dia kalau BB gue dengan sendirinya me-restart. dan timbulah sedikit conversation kecil dengan dia. ada rasa terhentak saat dia dengan tiba-tiba berkata ambigu.. "pacaran aja ga ada waktu, gimana ngurusin gituan" saat gue yang bertanya tentang stnk motornya yang sama sekali belum diperbaharui sama dia sampai sekarang.

yang gue rasain saat ini adalah lo masih sayang sama gue... gue bisa rasain itu. tapi lo terlalu memikirkan hal gak penting. lo terlalu memikirkan hal yang seharusnya gue pikirkan. lo terlalu takut untuk mencoba lagi karena merasa lo udah jahat banget sama gue. tapi gue enggak. gue masih merasa ada sesuatu yang belum gue lakuin buat lo. buat kelangsungan hidup lo kedepan. gue merasa gue masih punya hutang sama lo karena belom bisa bikin lo lebih baik dari sebelumnya. mungkin gue terlihat serius. tapi yang gue maksudkan disini bukan serius seperti apa yang ada di otak dia, I just want to face it in a good way.

gue tidak pernah mengagung-agungkan yang namanya pacaran. tapi yang gue terapkan adalah gue berusaha untuk menghargai arti sebuah pacaran. menghargai sebuah proses kecil. proses dimana semua ini adalah masa-masanya kita saling mengenal, belajar, dan mengerti satu sama lain. saling tahu karakter dan sifat masing-masing. mempertahankan yang baik dan membenarkan yang buruk. tulus dan menerima. rela dan sakit. ya.. untuk bertatap muka dengan cinta dan luka.

you know what?

kita sama-sama lelah. kita sama-sama ingin mencoba. tapi kita disudutkan oleh rasa sesal dan takut yang sebelumnya pernah menghadang. kita sama-sama kita acuh. kita sama-sama berhenti untuk tidak memedulikan ini semua. tapi kita dirundung rindu saat matamu dan mataku bertemu. kita sama-sama pasrah. kita sama-sama berharap kalau semua ini tidak pernah terjadi. tapi kita terbelit rasa sayang yang tak terkekang.

Sabtu, 16 Februari 2013

Mungkin.. Hanya Sebatas Ingin.

Hai! Long time no see..
Gue kangen banget nulis di blog kesayangan gue ini. by the way, ini postingan gue yang pertama di  tahun 2013.

I want to tell something to you guys. bukan tell sih sebenernya, tapi.. story.

-

Pernah gak sih lo terbawa euphoria? saat mungkin lo jomblo dan orang-orang sekitar lo ternyata punya pacar dan lo cuma bisa "Oh My God! jadi cuma gue yang single?!" dan lo mencari, mencoba, dan akhirnya jatuh terlalu dalam? dan semua itu bener-bener jauh dari apa yang lo planning-kan sebelumnya..

--

Gue dan bisa dibilang sohib gue, Feri, celingak-celinguk cari orang-orang yang pake baju merah. Banyak sih, tapi kita rasa bukan mereka. gue sudah mulai deg-degan dengan segala macam hal yang nanti sore bakal gue dan Feri alami. Kami berdua dipilih sebagai perwakilan SMA kami untuk menjadi ambassador brand motor terkenal di Indonesia untuk wilayah Bandung. Kami melihat stage yang lumayan besan terletak di pusat BIP (Bandung Indah Plaza). Gue bingung dan merengek pulang sama Feri, terbesit di pikiran gue untuk gak jadi ikut aja, tapi Feri kekeuh mencari orang itu. 
Seketika ada yang memanggil gue dan Feri. "Hey kalian!" Sahutnya. dia yang memilih kami, namanya kak Surya. berhunung latar belakang gue dan Feri yang memang sudah mulai mengobok-obok dunia entertainment  jadi akhirnya kak Surya memilih kami. Gue lega setengah mati melihat dia melambaikan tangannya pada gue dan Feri. Setelah bersapa ria, dia menggiring gue dan Feri menuju sebuah cafe dekat stage. Semua perwakilan dari SMA-SMA di Bandung berkumpul disitu. Gue masih tetap celingak-celinguk dan sesekali mengecek BlackBerry gue siapa tau mention gue udah mulai banyak karena temen-temen gue yang vote gue supaya menangin acara ini. sesekali gue cekakak-cekikik sama Feri dan taruhan siapa yang divote paling banyak. "Gue mau broadcast aja deh, bodo amat alay juga, kali-kali doang sih hahaha" sahut gue yang langsung mengirim broadcast-an ke semua contact BBM gue. "ah sialan, pasti gue kalah dong. BB gue kan rusak, followers dikit, sial!" Feri sembari bete tetap usaha minta vote sama temen-temennya.
 Disela obrolan kami, seorang cowok terburu-buru dan langsung duduk di sofa kosong tepat didepan gue. "duh cape! Kak Surya, maaf ya aku telat, lupa tadi kalo harus kesini hehehe". Dia lalu ngedumel tentang dia yang seharusnya manggung juga di hari itu. Kepo banget ya gue.. Tapi.. Tunggu. Manggung? Dia.. Anak band? Gue lihat sesekali ke arah dia untuk memastikan apa bener dia anak band, dari cara berpakaiannya sih.. Bisa dibilang iya pake banget. Tapi... Wajahnya yang cengengesan bikin gue sedikit mengangkat alis. Ini anak kok gak sopan banget sih, pikir gue dalam hati yang lalu buyar karena sembari tetap beradu mulut sama Feri. 
Disinilah semuanya bermulai.

Setelah kami masing-masing memperkenalkan diri, kak Surya sempat menjelaskan beberapa peraturan pada kami saat naik panggung. Setelah itu, gak begitu lama setelah briefing, seseorang menyebut nama gue, "eh, kamu, Marsya, mau green tea gak? Pesen gih! Hahaha kan kak Surya yang bayarin, ya gak kak?" Erraz, tiba-tiba menawarkan green tea ke gue. Siapa namanya tadi? ya.. Erraz. Tiba-tiba gue tersentak. "Hah? Aku?", "iya, kamu mau gak? pesen gih!" dengan muka ramah campur cengengesan yang agak bikin gue mengerutkan dahi. Kenapa harus green tea? Kenapa dia bisa tau kalo gue suka banget green tea. Dari dulu, kemanapun cafe yang gue tuju, gue selalu prefer dengan cafe-cafe kopi yang terdapat frasa "green tea" di list menu-nya.

Entah kenapa gue memutuskan untuk mengangguk dan mengiyakan. Dan akhirnya 1 cup iced green tea sudah berada di tangan gue. gue sedot sesekali sambil melakukan kebiasaan buruk gue, ya.. Gigitin sedotannya. Dan gue akhirnya memutuskan untuk bicara.. "Makasih ya" ujar gue yang disambut oleh senyuman Erraz yang.. gak begitu menyebalkan seperti tadi. Senyum yang ramah, hangat dan... sedikit cute. Gue lalu menarik tangan Feri yang sedaritadi sedang mengeceki timeline twitternya dengan muka tertekuk. "apaan sih?!" keluh Feri, "Fer.. kok... dia baik ya sama aku hahaha" bisik gue ke telinganya. 
"yaelah Ca, geer banget sih"
"iiiih Feri serius.. tuh-tuh mana cewek-cewek yang lain gak dikasih, aku dapet. malah temen satu sekolahnya aja dia gak tawarin masa.." ujar gue yang memaksa Feri untuk mengiyakan.
"Caca, Marsya.... denger ya. nih.. ja-ngan ge-er du-lu!" Ujar Feri yang kembali bersandar ke sofa dan mulai mengeceki iPhone-nya lagi.

Semenjak Erraz menawari gue green tea, anak-anak lain termasuk Feri ikut-ikutan minta ke kak Surya. Gue sedikit tersipu, "kok lucu ya. Disini masih banyak cewek-cewek dari sekolah lain yang jauh lebih cantik dari gue, tapi kenapa harus gue yang ditawarin sama Erraz? ah, yasudahlah ya, toh mungkin dia cuma asal-asalan." Batin gue yang lanjut sibuk memainkan BB.

-- 
Gue gak nyangka, ternyata Erraz terpilih menjadi ambassador dengan jawaban terbaik dan berhak siaran 1 tahun di 1 radio yang cukup tenar di Bandung. "wow" gue tidak sengaja berucap. Gue sama sekali gak nyangka dia bisa menang. Gue memang gak begitu menghiraukan dia saat dia menjawab pertanyaan dari juri, tapi gue tetep penasaran sama jawaban dia.
Setelah kembali ke cafe -yang mirip seperti back stage- untuk mengambil barang-barang yang ditaruh disana, tinggalah disana gue, Feri dan Erraz. Gue dengan tidak sadarnya mengucapkan selamat ke Erraz, "eh iya, selamat ya, cieee.. Siaran nih! hahaha" canda gue padanya. "hahaha makasih ya, iyanih hehe" cengengesannya mulai kembali dicampur dengan sikapnya yang malu-malu malah bikin gue jadi bertingkah awkward. Gue lupa sesuatu. Dia itu kakak kelas atau bukan! Mampus gue pake acara so akrab pula. "kamu kelas berapa?" ucapannya yang pas dengan apa yang gue pikirkan saat itu. Gila ni orang, punya kekuatan apa?! gue jawab dengan nada sebiasa mungkin, "kelas 2, hehe. Kamu.. Kelas 3 ya?", "iya kelas 3" jawabnya santai.
 Mampus gue... tapi gue memutuskan untuk melanjutkan percakapan. Kami sempat mengobrol agak lama, sampai Feri mengajak gue pulang. Hampir jam 9. "duh.. gak kerasa juga ya," batin gue. Dan dengan gak nyambunya, gue bertanya sama dia, 

 "punya twitter kan? follow dong hehe"  

What?! bego.. banget. Pertanyaan basa-basi macam apa lagi itu?! Astaga yasudah lah, terlanjur!  

"Punya laah... hahaha" ucapnya tergelitik, kayaknya gue kelewat basi...

Dan setelah dia mengangkat tubuhnya berdiri, pamit ke gue dan Feri lalu sebelum dia nyaris keluar dari cafe itu, gue berteriak ke arah dia, "jangan lupa di follow ya! Ntar di followback kok. Daaaah!" ucap gue yang kemudian heran sendiri, kenapa gue ngomong gitu. Dia lalu melambaikan tangannya ke gue dan berlalu.

Sesampainya di parkiran motor, gue menarik-narik jaket Feri
"Fer..." ucap gue agak lantang di parkiran motor, "Fer..", 

"apaan?" ujar Feri sembari mengelap jok motornya.
"Erraz kalo diliat-liat emang nyebelin ya. tapi.. ganteng juga sih hahaha" 
"Ca... Ca... yadeh serah" Feri yang sedari tadi tidak menoleh sedikitpun ke arah gue semakin gak peduli sama ucapan gue lalu naik ke motor dan mememcet tombol starter motornya
Gue kemudian menaiki motor Feri, "kalo gue ngeceng gimana? ngeceng doang Fer, gak mungkin juga sih lagian kita bisa deket.." ucap gue sembari senyum pasrah sambil liat ke arah langit yang malam itu diselimuti awan tebal.
"Ca... kamu mau kena harkos-harapan kosong- buat yang ke tiga kalinya? Hahaha" Kata-kata Feri yang meskipun kurang jelas karena sambil nyetir motor itu... ada benernya juga. Dalem.

--

LED BB gue kedap-kedip merah. Siapa ya... Pikir gue. Gue lalu mencabut charger dan meng-unlock BB gue. Twitter. Pagi gini siapa yang mention? 

_________________________________________________________________________________
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ahmad Erraz.
@Errazrc

"Heh!.. Minta di unfoll nih... (ˇ▼ˇ)-c<ˇ_ˇ) @Marsya07"

29Oct, 2012. 9.04a
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
_________________________________________________________________________________

Jantung gue berdebar kencang. Dia menepati janjinya. Padahal nama gue cukup ribet karena saat gue kasih tau dia, username twitter gue sama sekali gak gue eja, kenapa dia bisa tau dan nemu twitter gue?

_________________________________________________________________________________
What's happening?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 Hehe.. followed ka Erraz :p "Heh!.. Minta di unfoll nih... (ˇ▼ˇ)-c<ˇ_ˇ) @Marsya07" 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
| Tweet. |
_________________________________________________________________________________

Done. Tweeted. Gue deg-degan setengah mati. Kenapa dia sampe bisa se-kepo ini sama gue. Gak lama dia membalas lagi tweet gue.

Dan terus berlanjut sampai besok, besoknya, besoknya lagi.

Dia bilang dia gak mau gue panggil "kakak", cukup Erraz katanya. Dan sebaliknya, gue juga gak mau dia panggil "sya", cukup Caca.
Sampai suatu ketika, gue dan Feri ternyata di hubungi lagi oleh kak Surya dan kami harus ke kantornya. Dan yang gue gak nyangka juga adalah saat gue tau bahwa Erraz juga dipanggil kesana. Deg.
Notification DM (direct message) twitter gue memunculkan bintang warna merah tanda ada DM yang baru masuk. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Ca, bagi pin dong."

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Nice try, Raz."

Gue tanpa basa basi lagsung memberikan pin BB gue ke dia lewat DM.

Gak lama kemudian BBM gue mengeluarkan tanda bintang merah juga. Erraz. Gue lalu meng-accept kontaknya dan tidak sampai 5 menit, dia langsung mem-BBM gue..

Erraz: Ca, ke kantor kak Surya kapan?
Marsya: Selasa kayaknya, senin aku les. Kamu?
Erraz: Yaudah deeh selasa aja, aku gak ada temen...
Marsya: oh, mau bareng? boleeeh
Erraz: iya hehe
Marsya: okedeh!

dan dari basa-basi sesingkat itu, tidak terasa waktupun terus berputar dan kami, khususnya gue, dibutakan oleh chat yang semakin intensif setiap harinya...

--

"Vido has changed display picture 1 minute ago."

Gue yang sedang melihat-lihat kontak BBM lalu terhenyak saat gue membuka Recent Updates.

Vido...
Vido yang baru beberapa minggu lalu memutuskan berhenti untuk dekat sama gue karena... Linda.

Tunggu,
Apa Erraz... cuma jadi pelampiasan gue akibat Vido? Apa Erraz bisa bikin gue lupa sama Vido? Atau... Erraz sama aja kaya Vido?
Gue gak mau berharap banyak dari Erraz. Gue gak mau berharap banyak... Sama seperti apa yang gue lakuin ke Vido. Cukup... Cukup sakit hati gue ngeliat Vido yang ternyata lebih milih orang lain daripada gue. 

Gue melempar BB gue ke kasur. Semua isi otak gue bercampur aduk, bertubruk dengan isi hati yang gak mau kalah untuk mengamuk. Di satu sisi, gue masih mengharapkan sosok Vido yang begitu manis. Sosok Vido yang begitu perhatian dan bisa dibilang dia rela dan mau untuk selalu ada di samping gue.
Di satu sisinya lagi... gue harus survive dengan kenyataan yang ada depan mata gue, gue masih beranggapan kalau semua hal yang Vido pilih adalah mimpi dan bohong. Dan combo-nya lagi, gue juga harus tetap bertindak sewajarnya ke Erraz. Gue gak mau semuanya keulang dengan sangat detail. Gue takut percaya. Terlalu percaya. Gue sudah cukup muak untuk merasakan yang namanya broken heart lagi.

Gue mohon cukup.. 

 "Ya Tuhan... Kenapa? Kenapa harus gue yang merasakan semua ini? Gue pingin fokus.. Gue pingin lolos!"

--

Suatu malam di bulan November yang tenang, Erraz mendapati gue yang lolos tahap 1 audisi sebuah sekolah radio terkenal di Bandung. Erraz yang ikut menyuport gue, gak mau rugi.
"Ca, traktiran dooong? kan aku udah bantu support dan doa heheh.."
"Traktir? apaan tuh? hahaha. apa ya.. Oh iya, Breaking Dawn Part 2 kan baru keluar, nonton yuk?!" ujar gue kegirangan yang tiba-tiba membuat gue terdiam lagi.  

Kenapa gue sebaik ini sama Erraz?

"Boleh-boleh, kan gratis! hahaha :D" ia mulai meng-input emoticon ":D" di dalam balasan tweet-nya. Emoticon? Cute banget.. Haha.

"Kapan?" ujar gue kembali netral
"Bebas deh, gimana yang nraktir aja :D"
"Besok aku gak bisa, lusa aja deh, gimana? berarti.. Sabtu. oke?"
"Okedeh, haha asiiiik!" tweet terakhir Erraz.

Dan percakapan di twitter pun gue akhiri dulu. Ada yang janggal dalam percakapan gue sama Erraz kali ini. Tapi gue gak tau bagian mananya. Hmm.. 
Tunggu.. 
Sabtu? 
Berarti........ Malam minggu? 
Jadi.. Artinya...... 
HA?! ....... it doesn't mean a... DATE kan?!!!

--

Jalanan agak lumayan sepi. Gue yang di jemput Erraz ke rumah langsung meluncur ke BCW (Braga City Walk).
Dia tampak sangat rapih. Dia memakai sweater berwarna hitam, jeans gelap, sepatu kets hitam, flat cap atau biasa dibilang "topi pelukis", dan membawa tas kecil. Dia... Beda banget.
 Sementara gue yang saat itu memakai kemeja chiffon putih polos, tank top hitam, jeans, dan flat shoes zebra print, ditambah kalung dream catcher dan tas coklat kecil.

Kok... Bisa se-matching ini?

Menurut info yang kami dapat dari temen-temen kami setelah survei, cuma BCW yang antriannya gak begitu panjang, gak seperti mall-mall lain. Setibanya kami disana, kami mengantri cukup lama dan akhirnya mendapatkan tiket. "Raz, jam 5 nih kita nontonnya. Sekarang kemana dulu dong...." ucap gue sambil menatap tiket yang lalu gue masukkan ke dompet. "Mmm.. Makan aja yuk? Laper nih" Erraz yang mengusap-usap perutnya lalu menarik gue untuk turun ke bawah. 
Kami akhirnya masuk ke salah satu tempat yang asing buat gue. Semacam kedai Sisha. Sisha, "rokok arab" biasa orang banyak menyebutnya. Yang menggunakan tube meliuk-liuk yang tinggi dan memiliki variant rasa yang banyak, ada buah-buahan, kopi, teh, sampai aroma bubble gum. Jujur, ini pengalaman gue berhadapan langsung dengan benda-benda seperti ini. Dan hal-hal ini sempat membuat gue risih. Tapi... Erraz... Kenapa dia bisa bikin gue dengan gampangnya berhadapan sama semua hal ini? 
Kami pun langsung duduk dan Erraz memanggil waiters. "kamu mau pesen apa? cobain Sisha deh, pasti belum pernah yaaa?" tatapan sinis Erraz yang jahil bikin gue gak bisa memalingkan wajah kemana-mana karena dia duduk tepat didepan gue. "gak mau ah. gak suka. Lagian kata mama gak boleh!" canda gue pada Erraz sembali mengalihkan perhatian ke menu. Lagipula emang nyokap gue melarang gue untuk berhubungan dengan hal-hal yang bisa membahayakan kesehatan gue. "ayolaaah.. cobain deh, gak bahaya kok, enak tauuuu!" sambil mohon-mohon ke gue, akhirnya gue bilang "yaudah terserah, kamu aja, aku nyoba aja sekali, titik! aku pesen es krim aja." dan menu pun diangkat dari meja kami. Beberapa saat kemudian.. "duh pegel, tukeran kursi dong, Ca?" ucap Erraz tiba-tiba yang membuat mata gue move on dari iPod gue menuju Erraz. "hah, kenapa? kamu pegel? ya lagian so-soan duduk di kursi  yang gak ada senderannya. Yaudah sini aja" gue yang menyarankan Erraz untuk duduk disamping gue pun akhirnya sedikit bergeser dan Erraz pun pindah, duduk di samping gue. "nah... gini kek dari tadi" sembari menyender, ia mengintip ke arah iPod gue. "kamu lagi main apa sih? serius amat.." "Coin Dozer. ya abis bosen kali, jam 5 kan masih lama, Raz" kata gue sambil manyun. Erraz tiba-tiba menyambar iPod gue. "udah sini aku yang main, tuh es krim kamu udah dateng" Waiters pun meninggalkan kami berdua lagi. "Raz, tuh sisha kamu udah dateng, siniin gak, bosen niiiih!" "oh iya, berarti ada yang harus nyobain nih yaa.." sambil meletakkan iPod gue di meja, dia menyodori selang Sisha itu ke gue. "Nih cobain. Enak kok", "gak mau!" ujar gue menolak sambil menyendok es krim yang gue pesan. "katanya tadi mau cobain sekali, hayoo.." sial. Bodohnya gue, gue sempat bilang mau mencoba 1 sedot. Dengan terpaksa gue mencicipi, dan "uhuuk, uhuuuk... aduuuh gak bisa Raz, gak biasa aku. udah ah, gak mau lagi!"  ujar gue yang buru-buru menyeruput Thai Tea milik Erraz. "hahaha cupu ah! gitu doang batuk, huuu!" "bodo amat gue cupu, orang gak doyan sih" gue kembali menyendoki ek srim gue yang nyaris cair dan kembali memainkan Coin Dozer.
"Ca, ngapain lagi dooong, boseeeen.." setau gue, Erraz memang tipikan cowok yang gak bisa diem lama-lama, bawaannya pingin ngoprek mulu, gratak sana, gratak sini. Gelisah terus bawaannya. Bisa-bisa kalo disuruh nungguin gue belanja, dia bakalan mati kering. "gak tau deh..." dan gue yang cuek menanggapi Erraz yang kebosanan karena gue masih mainin game yang sama. "Ca, ih, mainnya berdua dooong.." Erraz bersandar ke kursi rotan itu, ia mengambil posisi yang pas untuk mengintip ke arah iPod gue. Tepat. Kepalanya sejajar dengan bahu gue. Gue gak tahu dan gak mau kepo, tapi gue rasain kepala Erras bersandar ke bahu gue. Damn. We shouldn't do this... 
Kami keasyikan bermain, dan sudah jam 3 sore. "Akhirnya!"  ucap gue yang melirik jam tangan."itu, itu jatohin dulu dong coinnya mah! biar kita dapet cincin kawin kita lagi, itu cinta kita, mama! sama itu mobilnya, mah, buat anak kita main dirumah! cepeeet" Erraz mengambil iPod dari tangan gue. Gue kaget mendengar spontanitas Erraz yang memanggil gue dengan sebutan "mama" dan dia sebagai "papa"-nya. Game Coin Dozen ini adalah permainan yang menurut kami bisa sedikit mengusir rasa bosan. Cara memainkannya gampang, tinggal touch layarnya, dan koin akan jatuh, lalu jatuhkan koin sebanyak banyaknya agar hadiah seperti cincin, kacamata, mobi; boneka, dan mainan-mainan anak lainnya bisa jatuh dan kami dapatkan. Permainan aslinya bisa ditemukan di supermarket/mall terdekat dengan area main anak-anak, atau, bisa langsung di search di App Store gadget smart phone.
1 Jam lagi menuju jam 5. Dan kami masih kebingungan akan melalukan apa lagi setelah limit di Coin Dozen habis. Erraz memang sangat jahil. Dia menarik-nariki rambut gue. "Raaaz, sakit! gabisa diem banget sih kamuuu, yaAllah anak siapa sih iniiiii..." ucap gue yang so-soan tegar menghadapi dia sambil gue mengelus-elus dada. "abis aku bosen Cacaaaaa... eh iya, pinjem tangan kamu dong?" "hah? mau ngapain? pasti aneh-aneh deh. hiiii gak mau ah" "engga aneh-aneh Cacaaaa, sumpah deh aku. udah, sini pinjem dulu tangan kamu" gue akhirnya menyodorkan tangan. Gue hanya bisa berpikir positif dan percaya kalo Erraz gaakan masukin jari-jari gue ke lubang hidungnya atau ngasih gue upil, atau ngerjain gue dengan hal-hal jorok lainnya. "siap-siap ya! 1.. 2.. ..."  "AAWWW!!!! Sakit, Raz! Ih kan, idioooot! nyebelin kamuuu nyebeliiin!" ucap gue geram sekaligus meringis kesakitan dan tertawa melihat Erraz yang kesakitan karena gue jambak. Dia dengan semangatnya sudah membuat imprint-an giginya di tangan gue. "sakit tauuu! sini aku gigit balik tangan kamu! nyebeliiiin!" dengan gemas gue gigit tangannya lalu gue cubit pinggangnya. "AAAW!!! Kamu curang pake cubit! udah berani ya sama aku main cubit! sini aku cubit bales hayolooooh...Hahahahah!" Erraz dan gue pun tertawa dan sama-sama kesakitan. Akhirnya gue merasakan sesuatu yang aneh. Apa mungkin... Ah cukup ah, don't expect something too high, Ca.

--

Setelah kami menonton, Erraz sedikit geram karena saat adegan klimaks, gue menarik-narik sweater Erraz sampai sedikit melar. "hehe.. maaf yaaa.. " kata gue genit ke Erraz. "ah tau ah males nonton sama kamu, baju aku melar semua nanti.." "kan tegang, Raz, tegang.." ucap gue pada Erraz yang masih terlihat agak bete. "Raz, gerimis.. gimana dong?" gue menunjuk ke arah luar parkiran. "wah iya.. gimana dong, kita kan mau makan.. hujan-hujanan aja nih?" "aaah kamu sih gak bawain aku helm, yaudah deh gapapa kita hujan-hujanan, aku udah laper nih Raz. sini aku pinjem topi kamu aja" sambil mengambil topi Erraz, gue menaiki motornya.

Sesampainya kita di tempat makan kaki lima di daerah taman lalu lintas, gue jadi teringat seseorang.. 
Erza.. biasanya dia yang selalu ajak gue ke sini untuk makan lele dan kol goreng kesukaannya. 

Ah, lupakan, sampai kapanpun juga dia dan gue cuma sebatas kakak-adik. Gak lebih. Gak akan pernah bisa lebih.

Gue dan Erraz pun mencari tempat kosong dan akhirnya memesan makanan. Dan hal yang menyebabkan gue semakin teringat Erza adalah saat Erraz memesan makanan yang sama persis dan selalu Erza pesan. Gue tertegun. Astaga.. Mungkin kebetulan. Erraz juga suka lele goreng ditambah kol goreng, dan masih banyak orang lain yang juga menyukai menu ini. Mungkin hanya kebetulan. Mungkin.
Sementara gue yang memesan bebek goreng pun sempat antusias, lapar ini sudah menyerang gue semenjak dari menonton tadi. Tapi saat gue selesai berdoa dan mau menyuapkan suapan pertama ke mulut gue, gue melihat sosok yang identik antara Erraz dan Erza. Cara makan mereka begitu sama. "Apakah se-kebetulan ini, Tuhan?"

Saat perjalanan pulang, ternyata hujan semakin besar, akhirnya kita menunggu hujan mereda di pinggir jalan yang gak begitu jauh dari rumah gue. Disana, kami sama-sama bosan dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali bermain Coin Dozer. Kami mulai bosan sampai akhirnya kami pun memasang lagu yang kami berdua tau dan mendengarkannya lalu bernyanyi bersama-sama. Suara Erraz cukup bagus, anak band banget. Kami menyanyikan beberapa lagu yang kami berdua hafal, lepas, dan begitu... Tidak biasa. Puncak klimaksnya adalah saat iPod gue lowbatt. Dan kami pada akhirnya cuma bisa menunggu hujan reda sambil sesekali bercanda dan mengobrol "lebih dekat".

--

"Thanks to Coin Dozer"

Tweet Erraz beberapa menit yang lalu.. "Raz, do you feel something different, between us?" 

--

M: Raz! ada paranormal activity 4 loh! caw yuuuk, bosen nih pengen main.
E: serius? boleh-boleh! ah ntar kamu takut lagiii hahaha :p
M: diiih ngapain juga takut, kamu kaleeee...
E: sorry ya, gak level~
M: yaudah makannya ayo caw! hahaha
E: okedeh, kapan nih Ca?
M: lusa deh, jemput aku di dago ya! jangan lupa helm hahaha
E: siiip

--

M: Raz, hujan besar banget nih.. gimana dong? gak jadi aja?
E: udah tenang aja, jadi kok, jadi Ca
M: serius jadi? kamu bawa jas hujan? 
E: enggak, hehe. udah gapapaaa
M: Raz.... serius?

M: Raz... kamu kemana??? gak jadi aja nih??? hujannya makin besar

M: Raz!!

M: PING!!!

E: Ca, aku udah di depan, di CK (Circle Key) 
M: Kamu... Serius?!??
E: yeeeh, yaudah pulang lagi nih, serius aku didepan. kamu dimana?

"Raz! kamu gak apa-apa?" ucap gue yang sedikit agak mengagetkannya. "basah doang sih, Ca. gak apa-apa kok" "duuuh... maaf ya.. padahal kan aku tadi bilang gak usah jadi aja, liat tuh, hujannya juga makin besar" "udah gak apa-apa, bentar lagi juga reda, terus kita caw, ya?" sambil menarik kursi dan duduk di samping Erraz gue mengiyakan.
Hujan semakin besar, dan gue juga Erraz akhirnya masuk ke foodcourt  di dalam. Gue akhirnya memesan 1 porsi tempe mendoan dan duduk menunggu Erraz yang sedang mengeringkan celananya. Dan dia masih bisa mengagetkan gue, "heh! mana makanan kamu? kasian amat belom dateng juga, hahaha sabar yaa" ucapnya sambil mengelus kepala gue dan akhirnya menarik ikat kuncir gue, "Raaaaz! jangan narik-narik rambut dong, sakit tauuuu!" gue balas cubit ke pinggang Erraz. "Tuhkan, udah berani nyubit aku ya sekarang. minta dicubit balik kan. minta digigit kamutuh! Hahaha" dengan ancang-ancang Erraz menarik tangan gue, sambil tertawa gue dan dia jahil-jahilan, dari mulai menggigit tangan, mencubiti dan menariki rambut masing-masing. Gue sadar, gue sudah semakin terjatuh jauh ke dalam comfort zone gue yang baru, Erraz.

--

"Raz.. udah lewat isya nih, hujannya belum reda juga. gimana dong? batal nih?" "ya kalo aku sih fine-fine aja, Ca, kalo nontonnya agak malem, nah kamu?" ucap Erraz yang asyik tidur-tiduran di kursi panjang yang kami duduki. "ya.. aku sih sebenernya gak apa-apa juga, Raz." "yaudah, caw ya? sekarang deh yuk mumpung gerimis doang, ciwalk kan deket hahaha, yuk!" Erraz yang langsung berdiri tanpa ragu mengajak gue berangkat ke Ciwalk saat itu juga. "oh iya, cek website bioskopnya ya, kita nonton yang paling deket dari waktu kita sekarang" "iya siap Raz! kita nonton jam 7.45 ya!" seru gue di motor.

--

"Raz, kok malu ya.. kita masih pake seragam tau!" "udah biarin aja, kita ini kan, lagian kepo banget mereka. suka-suka kita dong, udah-udah gausah malu-maluin gitu kamu! hahaha" "ih Raz, serius aku.. malu tau.." "udah Ca, filmnya mau mulai nih, yuk masuk!"

--

"Kenapa? Kamu takut? sini-sini.." "ah! anjrit, sial ini film ngagetin mulu Raaaaz!" "hahaha emang, tuhkan kata aku juga serem, pulang yuuuukk huhuhu" "ih apaan sih garing banget huuu!" "hahahaha! tuhkan Caca tuh curang kan, masa nutup muka! ih gaboleh! aku aja melek nih wleee" "serem Raaaz, serem. eh, ngagetin deng, gak serem" "yaudah deh kalo gak serem aku pindah aja duduknya ke sebelah kiri, tuh masih kosong kan, hahaha" "iiih jahat kan! jangaaan!" "hahaha yaudah deeh, makannya sini, awas loh jangan nutup mata, tangan kamu udah aku pegangin niiih" "iya Raz, iyaaa ih bawel kan, ssstttt!" ucap gue terpaksa sambil kembali fokus ke film. Tapi.. dalam posisi ini, sulit buat gue untuk fokus, karena sekarang gue bingung banget, maksud ini semua apa. Maksud Erraz apa? Gue memutuskan untuk act like nothing happened dan cuma bisa terdiam pasrah didalam dekapan Erraz.

--

"Gilaaaa! Seru banget! parah parah Raz, parah! katanya Insidious 2 keluar taun depan loh, bareng loh! hahaha" "idih amit amit apaan ngagetin semua filmnya" ujar Erraz yang membawa gue menuju skywalk sehabis menonton film. "tuhkaaaan, kamu yang takut! hahaha ngaku deeeh so-soan segala sih" "enggak sih yeee. bentar ah, ngerokok dulu ya" sambil mencari-cari korek, Erraz menjepit rokok di mulutnya. "iiih ngerokok terus, udah jam 10 Raaaz... ayo cepetaaan" "iya iya sebatang doang kok, lagian lebay amat sih" "takut Raz, kamar aku kan jauh dari kamar mama!" rengek gue pada Erraz yang terus menghisap dan mengepulkan asap rokok yang bertabrakan dengan rintik hujan gerimis. "kamar aku juga dong, oh iya terus ya, kemarin-kemarin aku nemuin kamar mandi rahasia deket kamar aku loh, hahaha selama aku tinggal disana, aku baru tau, keren ya! hahaha" "diiih, serem dong" "enggak lah, jadi sekarang bisa ngerokok di rumah! hahaha" "rokooook terus, paru-paru tau rasa kamu, huh." ucap gue yang dibahas hening oleh Erraz. Gue sesekali menampung air hujan dan lalu memuncratkannya ke udara. Sambil memainkan bulir air yang tertahan oleh pegangan pagar skywalk, gue berfikir lagi. Its too far. too much far. I want to stop it, but I can't move. He's too attach me..

"yuk pulang, udah malem" "yaelah kemana aja loooo! yaudah ayoo, besok kan sekolah. duuuh mana keujanan lagi" "yaudah ayo jangan ngedumel teruuuuus hahaha" ajak Erraz yang meletakkan lengannya melingkar ke bahu gue selama perjalanan ke basement.

--

M: Raz, dimana? ke Kedai Lingling yuuuk, pengen mochi niiih..
E: boleh-boleh, yang dimana?
M: mmm, oke deh. aku udah di Dago kok. Linglingnya yang di jalan trunojoyo aja ya
E: okedeh tapi aku ketemu temen-temen dulu ya Ca.
M: kalo udah sampe sana, BBM aku yaa
E: siiiip deh 

..........

E: aku udah di Kedai Lingling ya
M: okedeh, aku kesana!
E: cepeeet -,-

--

"heh! lama bangeeeet" "diiih siapa juga yang lama, kamu udah pesen belum? eh iya disini ada mochi gak sih?" 


Sabtu, 24 November 2012

Gantungkan Cita-citamu di Jemuran.


Siapa yang gak punya cita-cita? Semua orang bercita-cita. Pasti punya harapan untuk menjadi apa kedepannya. Untuk bagaimana kehidupan kedepannya. Kali ini gue ingin membahas tentang cita-cita gue yang mungkin memiliki makna bagi yang mengerti dan bagi yang tidak mengerti semoga bisa menjadi sebuah hiburan.

Kita mulai dari saat gue SMP... *flashback-ing*

Setelah gue merambah dunia baru alias SMP. Disinilah gue mulai lebih maceuh (aktif, bhs sunda) lagi. Bertemu teman-teman baru bukan suatu hal yang gue kira indah awalnya. Tetapi disini akhirnya gue menemukan sosok-sosok yang luar biasa dan berdampak positif bagi kehidupan gue sampai sekarang. Gue termasuk anak yang alhamdulillah gak bodoh-bodoh amat. Di SMP gue diikut serta-kan mama ke tes  kelas Bilingual dan siapa sangka ternyata masuk. Gue pada awalnya gak mau tapi apa daya tangan tak sampai, jadinya gue masuk ke kelas itu. Asing rasanya. Adaptasi adalah hal yang memuakkan bagi gue. Keluarga aja 1 gak diganti-ganti, kok ini diganti-ganti. Sosialisasi. Adalah alasan kenapa setiap manusia diwajibkan berkenalan dengan setidaknya 1 orang setiap ia memasuki ruang lingkup yang baru. Dan ternyata, kelas ini ga buruk-buruk amat. Gue mulai bertegur sapa dan mulai PDKT dengan satu demi satu siswa disana. Dan akhirnya akrab. Dari situ akhirnya gue menemukan teman-teman yang gue fikir 1 tujuan, 1 topik, dan 1 jalan. Mereka yang sekarang disebut Icons dulunya bernama A.S. (oh God...) alias Anak Seres (help help).

Mari kita bahas sejenak... Kenapa Anak Seres? Kenapa gak nyambung? Kenapa gak GAOL namanya? Gue sendiri pun masih heran kenapa namanya Anak Seres. Kalau gak salah karena gue suka kucing dan dirumah gue memiliki beberapa anak kucing yang salah satunya bernama Seres, salah satu dari kita asa nyeplos dan bilang “karena base camp kita di rumah icha (nama panggilan gue), jadi kita adalah Anak Seres!” dan yang lain langsung menyetujui. Anehnya gue tanpa pikir panjang tertawa dan menyetujui juga. (freak) nah, mulailah kita berdiskusi tentang cita-cita, saat itu ada guru Bimbingan Konseling kelas kami, Ibu Sawitri. Beliau mulai menanyakan pada kami semua apa yang akan kami capai nanti saat kami sudah besar. Gue bilang gue pingin jadi dokter hewan.

Kenapa? Karena gue adalah penyayang binatang. Pernah suatu saat, mas gue belum masuk TK, gue menonton film animasi. Ketika itu hiduplah seekor kelinci putih yang lucu menggemaskan, gue lupa lanjutannya tapi klimaksnya si kelinci itu kehilangan keluarganya dan tak tahu arah jalan pulang... kelinci itu tenggelam dalam lautan luka dalam karena keluarganya hilang entah kemana dan dia pasti merasa seperti butiran debu  yang tak bisa bangkit lagi. Oh tragisnya....
alhasil karena terlalu menyimak film animasi tersebut, gue menangis tersedu-sedu dan langsung dihampiri mama, mama pun bertanya “kenapa?” gue jawab sambil termewek-mewek “itu kelincinya kasi... hwaaaaa, kasi... hwaaaaa, kasi..a..nnn hiks hiks srooot” melankolisnya gue ya dari kecil udah kaya begitu.  Dan gue juga suka kucing, sempat gue pelihara 12 kucling sekaligus di rumah yang membuat geram nenek gue kalau lagi berkunjung ke rumah.

 Kucing pertama gue, gue dapet dari tetangga sebelah yang ngontrak di rumah mama. Namanya om Bayu. Dia bilang, dia mungut kucing itu dari pasar karena lucu dan bersih (oh baiknya.. *terharu). Akhirnya dia mandiin dan piara. Nah suatu saat gue baru pulang sekolah dan ada si kucing kuning kecoklatan itu. Lucu sih, wangi pula (lagi lagi gak nyambung). Gak lama om Bayu keluar dan akhirnya berbincang-bincang seputaran kucing, gue akhirnya meminjam si kucing kuning kecoklatan itu dan membawanya masuk ke rumah. Mama langsung gak bisa santai dan menjejali gue dengan 1001 pertanyaan tentang si kucing kuning kecoklatan itu. Gue jelaskan kalau kucing itu punya om Bayu dan akhirnya mama mengizinkan asal sorenya si kucing kuning kecoklatan itu dipulangkan ke tempat asalnya. Entah bagaimana asal mulanya, entah gue yang menamakan atau om Bayu yang menamakan si kucing kuning kecoklatan itu, tapi yang jelas namanya bukan si kucing kuning kecoklatan tapi Molly. Molly adalah kucing jantan paruh baya yang senantiasa berlugu-lugu, ber unyu-unyu dan gelendotan ke gue, (mungkin karena dia jantan dan gue betina...) bulunya halus (efek shampoo kucing anti rontok yang membuat rambut kucing anda berkilau) tubuhnya harum (efek bedak kucing beraromakan lavender dengan wajah kucing super pesek di labelnya) matanya kuning cerah, dan wajahnya ganteng seperti Primus Yustisio tapi ketumpahan obat penumbuh rambut. Ganteng kan?

Pernah juga gue melihara hamster, gue punya sepasang dulu, namanya gue lupa. Yang jelas gue sayang banget sama mereka berdua meski kalau mau pegang suka takut digigit. Gue sampe bikinin rumah buat mereka dari kardus. Tapi dasar aja gak tau diuntung, mereka gak mau tinggal disitu. Kerja keras dan jerih payah gue.... (sigh).  Pada suatu siang yang terik, gue menengok mereka ke halaman belakang dan mengenaskan................ hamster putih gue sudah tewas tak bernyawa akibat KDRT yang dilakukan si coklat. Gue pun menjerit dan memanggil seisi rumah, heboh atas kematian hamster gue yang putih. Gue langsung menyender di tembok dan merosot seketika, terjongkok dan menangisi keadaan yang terjadi. Oh tuhan... mengapa oh mengapa? Kematian itu begitu tragis, gue Cuma bisa menangis dan menulis di diary ber-gembok gue “telah mati si putih tgl ... bulan... tahun...” persisnya gue lupa tapi formatnya seperti itu.

Itulah yang menjadi alasan mengapa gue ingin menjadi dokter hewan, karena ingin menumpas KDRT antar sesama hewan dan ingin menyelamatkan mereka dari maut yang sudah ingin merenggut.

∞

Tahun kedua di SMP, kembali diadakan konsultasi cita-cita sama guru BK kami yang baru yaitu Ibu Nurlita. Beliau lalu mewanwancarai kami satu per satu. Saat itu gue sudah agak gaul dan semenjak rutinnya gue membawa laptop saat kelas TIK akhirnya berkenalanlah gue dengan situs tak terbatas bernama blogger.com. gue yang pada saat itu buta tentang blog mulai kepo tentang blog, kegunaan, cara kerja dan sebagainya. Setelah ngotak ngatik sendiri diiringi keringat yang tak hentinya bercucuran, gue akhirnya bisa menggunakan blog dengan baik dan benar. Semua curhat gue dari yang paling gak penting sampe yang dramatis ada di blog gue yang sampe sekarang berdiri dengan tegaknya. Tapi kebanyakan gue masukin draft karena... ya, banyak hal.

Lanjut. Saat mulai curhat-curhat di blog dan inget pas kecil dulu gue sering bikin puisi, jadilah gue bilang ke beliau kalau gue memutuskan untuk berhenti jadi dokter hewan yang sudah gue rintis sejak dari SD dan menggantungkan sebuah cita-cita baru yaitu... menjadi seorang penulis. Gue bisa memuntahkan sesuatu, bisa mengungkapkan sesuatu dengan tulisan, baik itu penting atau tidak, positif atau negatif, sedih atau ceria, semuanya bisa gue ungkapkan tanpa memutuskan urat malu gue dengan tulisan. Banyak hal yang bisa gue dapat dari menulis atau mengungkapkan sesuatu melalui paragraf-paragraf ringan. Gue jadi pede untuk berbicara di depan umum dan gak canggung lagi kalau ditanyain soal pendapat atau beradu argumen.

Gue sendiri dulu jarang punya temen yang sebaya. Berhubung nenek gue buka tempat kos-kosan di daerah UNPAD jatinangor, jadi yang mengayom gue dan mengelilingi gue semasa kecil itu mayoritas anak kuliahan. Dan gue sering kali ketakutan melihat tubuh mereka yang besar dan tinggi. Biasanya kakak-kakak perempuan lebih senang memberi “sesuatu” ke gue, kaya boneka, kue, dan pernak-pernih cowo. Sedangkan kakak-kakak cowo biasanya cuma tersenyum dan say hi. Berhubung gue belum masuk sekolah dulu, jadi ya gue gak begitu terbuka sama mereka, gue lebih senang berada di sekitar rumah gue atau gelendotan kaya bayi orang utan sama mama. Sampai akhirnya gue masuk sekolah dan bertemu teman-teman, komunikasi gue lakukan dengan se baik-baiknya sampai sekarang sama orang-orang yang berada di sekitar gue.


∞

Tahun ketiga, alias saat gue masuk kelas 9. Mulai terasa artinya classmate gue saat tahun ini. Banyak banget orang-orang yang bisa mengilhami dan menginspirasi gue sampe gue sekarang kaya gini. Mereka teman-teman terbaik sekaligus keluarga kedua gue. Dimana merekalah yang selalu mau menerima gue ketika gue gatau harus kemana, ketika gue membutuhkan mereka dan tanpa ditanyapun mereka sudah selalu siap sedia berada disamping gue, ketika gue rindu untuk dirindukan dan mereka senantiasa merindukan kehadiran gue diantara gelak tawa dan canda mereka. Indahnya rasa kekeluargaan kami jadi bikin gue seneng foto-foto

Dari kecil sih, hobby gue foto-foto alias narsis itu sudah diukir sama mama. Mama sering banget nyuruh gue pose-pose dan memakai baju-baju macam putri impian yang baik hati *ea. Dari tahun ke tahun, foto-foto gue selalu berpose dengan senyum centil, memeluk boneka, melakukan aktivitas atau berkacak pinggang sambil membawa payung, (kok kaya.... skip.) banyak juga foto gue yang diambil mama saat gue sedang tertidur pulas, bangun tidur? Ada, mau tidur? Juga ada. Untungnya gaada foto gue sebelum mandi, lagi mandi, atau sesudah mandi...

Mama itu gak pernah melewatkan 1 hal kecil pun, semua diabadikan melalui foto. Maka dari itu, seiring dengan pertumbuhan badan, otak, hati dan jiwa gue, gue jadi senang bernarsis ria.

Setelah berkenalan dengan blog, saat kelas 8 juga gue dikenalkan pada beberapa aplikasi baru yaitu photoshop, photoscape dan corel. Seperti biasa, gue selalu suka mengotak-ngatik sesuatu. Mulailah gue mengotak-ngatik aplikasi itu satu persatu. Lama-kelamaan setelah gue mengerti fasilitas yang diberikan, gue pun mencoba mengedit foto gue, dan hasilnya agak alay... dengan warna-warna ngejreng, tulisan-tulisan keriting, bingkai yang tidak lazim, dan emoticon berlebihan bertebaran.

Setelah fasih kurang lebih 3 bulan, kelas 8 gue sudah mahir mengedit foto, tau fungsi dari masing-masing tools di photoshop, photoscape dan corel. Dan kelas 9 ini gue mulai diperkenalkan dengan kamera sejuta umat jaman sekarang. Apa lagi kalau bukan DSLR dan SLR. Tapi berhubung globalisasi sudah menyebar kemana-mana dan sekarang era serba digital, yang berkenalan duluan dengan gue adalah DSLR. Dan untuk yang keberapa kalinya gue gak tau, tapi gue mencoba mengutak-ngatik lagi. Rasa keingin tahuan gue akan sesuatu itu menutupi semua faktor yang mengharuskan gue untuk berbuat tidak. Dan akhirnya, kurang lebih cara menggunakannya tidak jauh berbeda dengan kamera digital. Yang merupakan pengetahuan baru adalah ketika gue mulai tau apa itu lensa makro, lensa mikro, diafragma kamera, fungsi ISO, cara mengubah speed untuk shutternya, dan efek-efek ”cantik“ yang biasa di download di internet. Hahaha.

Pengetahuan gue semakin luas akan kamera dan segala macam tektek bengeknya, gue mulai menjajah toko buku dan mencari buku tentang penggunaan kamera yang baik dan benar. Gue sering cari tahu informasi tentang berbagai macam kamera di internet. Dan setelah kenalan dengan beberapa jenis kamera, gue berkenalan dengan Lomo. Dan gue juga diizinkan untuk membeli salah satu jenis diantara mereka yaitu Diana F+ edelweiss yang limited edition. Asik juga, pikir gue. Karena selain bisa mengabadikan suatu kenangan dengan tulisan, kita juga membutuhkan bukti kongkrit berupa gambaran yang terlukis jelas diatas selembar kertas mengkilap untuk dijadikan sebuah tanda mata atas kejadian yang kita rasa takkan bisa terulang lagi.

Sebagai perempuan, gue juga merasakan bahwa ketika gue sedang berwajah fresh atau bentuk rambut gue yang biasanya sehabis bangun tidur itu tiada tara indahnya, membutuhkan pengabadian. Atau jika kita bepergian ke suatu tempat yang indah semacam pantai, dengan terik matahari yang pas dan membuat warna kulit menjadi sedikit lebih cerah, efek ombak yang sedang menggulung menjadi background dan format foto yang ingin kita abadikan adalah “candid”  dengan kita yang sedang bermain pasir atau menulis nama sang pacar, atau malah mempromosikan username twitter dengan senyum yang dibuat se-tidak dibuat-buatnya, bisa juga sambil melihat jauh ke tengah laut, atau ya... bisa dibayangkan sendiri lah.

Seperti itulah contohnya, dengan narsis, kita juga bisa menilai apakah ada yang berubah dari diri kita atau tidak. Seperti misalnya jika bulan lalu, di kening hanya ada 1 jerawat, maka bukan berikutnya jerawat itu melahirkan bayi-bayi jerawat yang menggemaskan dan minta di pites. Atau mungkin bulan lalu pipi terlihat tirus sedangkan bulan berikutnya terlihat seperti marmut yang sedang menyimpan makanan cadangannya untuk hibernasi.

Bu Nurlita kembali ke kelas kami untuk tahun keduanya ini. Beliau kembali mewawancarai kami satu persatu dan akhirnya tibalah giliran gue. Gue maju. Bu Nurlita bertanya lagi seperti tahun lalu. “mirsha, sekarang masih minat jadi penulis? Atau..” gue jawab “masih bu, tapi..” “kenapa?” katanya, lalu gue jawab “saya pingin jadi penulis yang sekaligus merangkap jadi fotografer, saya tidak hanya ingin mengabadikan sesuatu melalui tulisan saja, tapi melalui foto juga.” Jawab gue panjang lebar. Bu Nurlita hanya tersenyum dan berkata “lanjutkan ya!”. Percakapan pun berakhir .


Dari semuanya gue ngambil kesimpulan kalau memang sosialisasi dan komunikasi itu memang sangat penting baik bagi masa kini apalagi masa depan. Semua harus disiapkan secara matang. Baik dari segi fisik, maupun mentarl. Ilmu yang kita miliki sekarang harus dijadikan modal awal untuk membangun satu cita-cita yang tidak hanya menguntungkan untuk diri sendiri tapi juga menguntungkan bagi orang-orang yang berada di sekitar kita.

Mungkin ada yang bertanya, “sekarang cita-cita kamu apa ca?” apakah akan menjadi dokter hewan lagi? Apakah akan menjadi penulis? Atau apakah akan menjadi seorang fotografer? Atau menjadi seorang dokter hewan yang hobby menulis dan mempunyai usaha fotografi? Bisa jadi.

Tapi hal yang sangat gue cita-citakan sekarang, detik ini, adalah hattam Al-Quran. Dari dulu gue selalu ngaji, tapi kenapa perasaan gak beres-beres. Gue termasuk orang teledor, setiap gue habis baca Quran, gue pasti selalu lupa menandai yang mana yang udah gue baca dan darimana gue harus melanjutkan kembali. Bodohnya, ketika gue berada di posisi itu, gue selalu ngaji dari awal. Jadi siapa yang bego? ....  bener-bener gue cita-citakan nih. Semoga aja, ketika nanti buku ini lahir ke dunia, kelar juga gue baca 30 juz Al-Quran. Aamiin. Cita-cita kedua yang gue ingin wujudkan adalah tidak lain dan tidak bukan... menyelesaikan dan berhasil melahirkan buku ini, yang akhirnya bisa dikonsumsi oleh masyarakat banyak dan menjadi inspirasi atau sekedar flashback mengingat masa-masa muda yang telah lalu.

Cita-cita untuk karir gue kedepannya sih ingin menyelancari dunia entertaiment, tepatnya gue ingin belajar menjadi seorang broadcaster. Menjadi seseorang dibalik layar tampaknya jauh lebih menantang, membutuhkan ide-ide yang tidak biasa, juga lebih berjasa dan berharga daripada menjadi seseorang didepan layar. Tanpa seseorang yang berada dibalik layar, kita tidak akan pernah tahu apa itu sebuah layar, mana belakang dan mana depan, mana seni dan mana hasil karya. Karena dibalik layar kita yang merekayasa, kita yang memuntahkan ide-ide dan kreativitas kita, sementara didepan layar hanya tinggal mengekspresikan dan bergerak sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh seseorang dibalik layar tersebut. Itu sih menurut gue. Intinya, gue ingin membuat atau membantu orang-orang lebih baik dengan ide dan kreativitas yang gue miliki.

Remaja tak luput dari masa-masanya mereka mulai berkenalan dengan suatu sentuhan kasih sayang Tuhan yang diberi nama cinta. Setiap jiwa memiliki hari yang Tuhan limpahkan dengan cinta. Banyak harapan yang bersembunyi dibaliknya. Maka dari itu gue juga memiliki harapan atau cita-cita untuk masalah cinta ini. Cita-cita gue ini pernah gue utarakan ke pelatih vokal gue, kang Farid. Gue pingin bertemu jodoh gue di Ka’bah. Ketika gue sedang berumroh suatu saat nanti. Entah bagaimana caranya biar Tuhan yang menyusun, tapi cita-cita gue yang satu ini ingin sekali gue capai. Bayangannya kalau gue dapet jodoh di sana kan terasa adem. Kaya yang sudah diberi ikhlas sama Tuhan. Entah gue yang terlalu berotak sinetron entah  otak gue yang memang berisi sinetron (loh?), tapi untuk yang satu ini gue selalu berdoa sama Tuhan. Semoga terkabul ya, aamiin.


∞

Entah kenapa, tapi untuk sekarang, gue gak mau menggantungkan cita-cita gue terlalu tinggi sampai ke langit. Karena mulai menyangkut masalah hati dan perasaan, sedikit lebih serius ya.

Loh? Kenapa? Ada apa?

Trauma? Engga. Pernah gagal? Pasti. Tapi hal yang mengurungkan gue menggantungkan cita-cita gue lebih tinggi dan yang pada akhirnya membuat gue menarik cita-cita gue yang tinggi lalu digantungkan di jemuran adalah...
Karena gue pernah jatuh saat gue sedang dalam perjalanan menuju cita-cita gue yang tadinya akan gue bawa lebih tinggi lagi. 

Salah adalah ketika kita terlalu mencita-citakan seseorang itu seperti apa yang kita fikirkan. Saat manusia tidak pernah puas, saat apa yang mereka cita-citakan tercapai dan akhirnya mempunyai cita-cita baru, dan terus seperti itu sampai mereka lelah sendiri dan puas atas apa yang telah mereka dapat.

Dan ya, gue manusia. Khilafnya, buruknya manusia seperti gue adalah tidak pernah puas akan sesuatu hal. Ketika gue mendapatkan cita-cita gue, terbitlah cita-cita baru gue yang lebih tinggi. Apa yang gue cita-citakan lebih tinggi, dan setelah terkabul gue akan memikirkan cita-cita baru dan seterusnya seperti itu. Inilah manusia, egois. Dikasih hati eh, minta jantung. Mungkin kalian yang membaca buku ini juga pernah melakukan hal ini. Manusia memang tak luput dari kesalahan, dan ya, gue manusia, gue juga pasti punya banyak kesalahan, tapi kalau salah terus?
Perasaan gue campur aduk ketika look back dan mengingat betapa buruknya gue. Betapa egoisnya, betapa rakusnya gue untuk bercita-cita...

Di bab ini, gue juga ingin memohon maaf pada orang-orang yang sempat gue jadikan gantungan cita-cita gue. Orang-orang yang selama ini gue cita-citakan lebih dan hanya mampu bertahan sampai mereka benar-benar lelah berdiri, memegangi  cita-cita gue yang harus bisa mereka capai, demi gue.

Maaf karena gue telah menggantungkan cita-cita gue pada kalian.

Satu pesen gue. Jangan terlalu mencita-citakan sesuatu, terlalu menginginkan cita-cita itu tercapai, terlalu bercita-cita yang muluk-muluk, bercita-citalah sewajarnya. Jangan terlalu tinggi menggantungkan cita-cita, tapi jangan diletakkan juga. Gantunglah cita-citamu di jemuran. Tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Cita-cita itu tetap berada di atasmu, kamu tetap harus mendongak kearah atas untuk melihat cita-cita tersebut, capitlah cita-citamu menggunakan penjepit jemuran agar angin tak bisa membuatnya terbang jauh. Saat kamu siap mewujudkan cita cita itu, dengan tidak kesusahan kamu akan bisa mencapai cita-cita itu tanpa perlu merepotkan orang lain untuk menggapaikannya.


∞
 

©2013. with ♥ from Mirsha Shahnaz Azahra.